Tampilkan postingan dengan label Rio Andriawan 105120401111018. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rio Andriawan 105120401111018. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2011

Rio Andriawan (Pertemuan ke-III) 0


Pertemuan ke-III

Walt W. Rostow , menemukakan teori lima tahap pembangunan ekonomi yang pasti akan dilalui oleh suatu negara yang menjadi syarat pembangunan untuk mencapai “status yang lebih maju”. Lima tahap itu antara lain the traditional society, the preconditions for take off, the take-off, the drive of maturity, and  the age of high mass-consumption. The traditional society (masyarakat tradisional) adalah tahap dimana keadaan ekonomi pada masa itu  masih dalam keadaan stagnan dan pendapatan per kapita yang masih rendah. Ini dikarenakan terbatasnya produktivitas dan terbatasnya akses untuk mendapat teknologi yang modern (era pra-Newtonian). Pertanian masih menjadi mata pencaharian utama sehingga padat akan tenaga kerja dan hasilnya tidak disimpan maupun diperdagangkan , melainkan menjadi barang yang dapat ditukar dengan barang lainnya (sistem barter) ataupun untuk konsumsi pribadi. Ditinjau dari aspek sosial, struktur hierarkis menjadi fondasi sosial dengan kepemilikan lahan oleh penguasa lahan. Koneservatif dan menolak akan perubahan merupakan nilai-nilai yang ada di tahap ini. The preconditions for take off atau tahapan transisional merupakan tahap prakondisi bagi pertumbuhan dipersiapkan. Pada masa ini,sudah dimulai adanya kebutuhan untuk pendanaan asing bagi pertanian. Selain itu, tingkat orang menabung dan menginvestasikan apa yang mereka punya meningkat . Hal lain yang menjadi karakteristik tahapan ini adalah adanya lembaga dan organisasi tingkat nasional dan elit-elit baru dalam kehidupan sosialnya The take off atau tahap lepas landas adalah tahap yang mengindikasikan mulanya proses pertumbuhan ekonomi secara berkesinabungan. Industrialisasi yang meningkat di setiap daerah yang beriringan dengan sector pertanian yang menurun, inovasi teknologi yang berkembang pesat, mulainya perumbuhan sector manufaktur adalah beberapa contoh dimulainya masa lepas landas ini. Revolusi politik yang terjadi menjadi stimulus ekonomi yang mengakibatkan peningkatan pertumbuhan regional. Tabungan dan investasi semakin meningkat dengan melihat laju presentase yang naik sekitar 5-10% dari pendapatan nasional . Semua ini mengakibatkan munculnya pengaturan kelembagaan untuk menunjang efisiensi dalam pengelolaan (semisal sistem perbankan). Tahap keempat adalah the drive to maturity atau tahapan pergerakan menuju kematangan ekonomi. Pada tahap ini, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, diversifikasi industri  dan penggunaan teknologi secara meluas menjadi ciri-ciri dominan yang mengindikasikan adanya pergantian tahap dari tahap sebelumnya. Pembangunan pun meluas ke sector-sektor baru dan dalam hal investasi dan tabungan, tahap ini mengalami peningkatan sekitar 10-20 persen dari pendapatan nasional. Dan Tahap terakhir, yaitu tahap the age of high mass-consumption atau tahap produksi dan konsumsi massal bersifat industri merupakan tahap yang umumnya disebut tahap pembangunan atau development stage. Tahap terakhir ini didominasi bidang jasa, karena dapat terlihat pada masa ini proporsi ketenagakerjaan yang tinggi di bidang jasa, meluasnya konsumsi atas barang-barang yang tahan lama dan jasa yang ditawarkan , dan peningkatan pembelajaan untuk jasa-jasa yang bersifat mendatangkan kemakmuran. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pembangunan, dalam arti proses, diartikan sebagai modernisasi yakni pergerakan dari masyarakat pertanian berbudaya tradisional ke arah ekonomi yang berfokus pada rasional, industri, dan jasa. Untuk menekankan sifat alami ‘pembangunan’ sebagai sebuah proses, dimana menurut teori rostow secara mendasar bersifat unilinear dan universal, serta dianggap bersifat permanen Rostow pulalah yang membuat distingsi antara sektor tradisional dan sektor kapitalis modern. Frasa-frasa ini terkenal dengan terminologi ‘less developed’, untuk menyebut kondisi suatu negara yang masih mengandalkan sektor tradisional, dan terminologi ’more developed’ untuk menyebut kondisi suatu negara yang sudah mencapai tahap industrialisasi dengan mengandalkan sektor kapitalis modern.
Selengkapnya...

Rio Andriawan (Pertemuan ke-II) 0


Pertemuan ke-2

Selama ini pembangunan dan implementasinya belumlah berjalan dengan baik , malah semakin memburuk. Teori pembangunan yang konvensional selama 20 tahun belakangan,mendapatkan kritik karena ketidakpuasan teori untuk menjelaskan realita selama ini. Teori konvensional mempunyai indikator bahwa suatu negara dapat dikatakan berkembang jika dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan, sedangkan kesejahteraan berdasarkan sistem kapital “development equals monetary wealth” dimana dalam implementasinya teori konvensional akan hanya membuat negara kaya semakin kaya,dan negara berkembang, tetap berkembang bahkan semakin miskin. hal penting yang selalu  dipertanyakan para kritikus adalah semua Bahwa semua hasil distribusi sumber daya bukan didistribusikan kepada masyarakat,tapi justru banyak kepada golongan orang kaya,elit,kelompok kepentingan tertentu. Teori pembangunan konvensional memandang pesimis bahwa negara dunia ketiga tidak mungkin untuk menjadi negara mapan.. Ada pertanyaan besar yaitu “pembangunan apa?” dan “apa yang harus dibangun?” yang dilontarkan oleh para kritikus. Mereka meyimpulkan bahwa teori pembangunan sekarang tidak representatif semua yang dibutuhkan masyarakat. Tapi pembangunan yang terbaik menurut pemilik modal dan berapa orang yang harus dibayar oleh orang-orang kapitalis sehingga disebut “Capitalist Development Theory” (teori pembangunan kapitalis). Salah satu contoh yang dapat menegaskan  pernyataan tersebut adalah adanya implementasi "Structural Adjustment Packages" oleh World Bank.
            segala hal ini sebenarnya berhubungan dengan reorganisasi tentang bagaimana  sudut pandang dan cara memenuhi kebutuhan untuk menjadi sejahtera dan makmur. Bagi teori pembangunan konvensional , segala hal yang berhubungan dengan sejahtera disamakan dengan finansial yang bagus sehingga dapat memenuhi syarat  kesejahteraan yang telah ditetapkan. Berbeda sekali dengan pandangan alternatif, yang sementara ini digunakan sebagai solusi dari kritikan-kritikan yang ada, yang menyatakan bahwa semua pembangunan itu sangat dipengaruhi oleh tujuan pembangunan yang dilatar belakangi oleh pelayanan dan dasarnya pada peningkatan kualitas hidup. Contoh yang riil yaitu kesejahtraan Ladakh di sebuah daratan tibet. Walaupun secara GNP mereka tidak terlalu baik atau rata-rata,tapi mereka memiliki kultur yang kuat.dengan memadukan sumber daya yang ada dan ekologi dalam kehidupan sehari-hari, mendifinisikan apa itu kesejahteraan tanpa adanya modernisasi yang selama ini di implementasikan oleh negara barat. Ditinjau dari Ladakh,Global Ecovillage Movement muncul sebagai solusi alternatif dimana setiap negara memungkinkan untuk membangun kehidupan mereka sendiri yang berbasis kehidupan yang sederhana. ketahanan ekologi.



Selengkapnya...