Tampilkan postingan dengan label Dennis Wahyudianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dennis Wahyudianto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

Sustainable Development 0

Sustainable Development (SD) menurut World Commission on Environment and Development’s, adalah kebutuhan pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi mereka sendiri.. Maksudnya adalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan yang bisa bersama sama dengan kualitas perlindungan lingkungan hidup , memperkuat sama satu dengan yang lain . inti dari hal ini adalah suatu bentuk dari perkembangan hubungan yang stabil di antara kegiatan manusia dan alam di seluruh dunia , yang tidak mengurangi prospek untuk generasi di masa depan untuk menikmati kualitas hidup yang baik dari pada yang paling kurang seperti yang kita sendiri . Banyak pengamat percaya bahwa partisipatif demokrasi dan tidak didominasi oleh kepentingan pribadi merupakan prasyarat untuk mencapai pembangunan yang berkesinambungan.
Pada kenyataannya, pembangunan berkelanjutan menarik resonansi, kekuatan, dan kreativitas daridari keambuguitasan yang besar. Tantangan konkrit pembangunan berkelanjutan yang setidaknya adalah sebagai heterogen dan kompleks sebagai keragaman masyarakat manusia dan ekosistem alam di seluruh dunia. Sebagai konsep, sifat lunak memungkinkan untuk tetap terbuka, dinamis dan pengembangan ide yang dapat disesuaikan agar sesuai dengan situasi yang sangat berbeda dan konteks ini melewati ruang dan waktu. Demikian pula, keterbukaan untuk interpretasi memungkinkan peserta di beberapa tingkatan, dari lokal global, domestik dan di seluruh kegiatan sektor, dan lembaga-lembaga pemerintahan, bisnis, dan masyarakat sipil untuk mendefinisikan kembali dan reinterpretasi makna agar sesuai dengan situasi mereka sendiri. Dengan demikian, konsep keberlanjutan telah disesuaikan untuk mengatasi tantangan yang sangat berbeda , mulai dari perencanaan kota-kota yang berkelanjutan untuk mata pencaharian yang berkelanjutan, pertanian berkelanjutan untuk memancing yang berkelanjutan, dan upaya untuk mengembangkan standar perusahaan umum.
Dengan demikian , pembangunan berkelanjutan memerlukan partisipasi beragam pemangku kepentingan dan perspektif, dengan cita-cita mendamaikan perbedaan dan terkadang kontradiksi dengan nilai-nilai yang ada dan menciptakan tujuan kea rah sinstesis baru dan saling koordinasi yang berikutnya untuk mencapai beberapa tindakan secara bersamaan dan nilai yang lebih sinergis. Seperti yang ditunjukkan oleh fakta-fakta yang ada, bagaimanapun, mencapai kesepakatan pada nilai nilai kerberlanjutan , target , dan tindakan ini sering sulit disepakati  dan pekerjaan yang sulit, sebagai dampak dari keadaan perbedaan masing-masing nilai pemangku kepentingan dipaksa secara mendasar , Terkadang , pemangku kepentingan individual menemukan proses yang terlalu sulit atau terlalu banyak permasalahan dalam menanamkan nilai-nilai mereka dan juga menolak sepenuhnya segala proses mereka dalam mengejar tujuan sempitnya maupun kritikan secara ideological, tanpa terlibat dalam kerja keras dari proses negosiasi dan kompromi. Kritik adalah tetap merupakan bagian penting dari evolusi pembangunan berkelanjutan yang menjadi sebuah konsep, pada akhirnya, mewakili keberagaman lokalm menuju upaya global untuk membayangkan dan memberlakukan visi yang positif dari dunia di mana kebutuhan dasar manusia terpenuhi tanpa menghancurkan atau bulat merendahkan sistem alami yang di mana kita semua bergantung padanya.

Selengkapnya...

Jumat, 30 Desember 2011

neoliberalisme dalam pembangunan global 0


Krisis finansial pada tahun 1998 telah menjadikan keadaan global saat ini riskan akan krisis-krisis selanjutnya. Hal ini juga menandakan akan adanya krisis yang sangat besar dalam penerapan teori dan praktik pembangunan internasional. Efek domino di perekonomian Asia , Amerika Latin dan Eropa Timur  mengindikasikan ketidakmampuan rezim ekonomi dunia untuk memprediksi, mempreventif dan mengelola banyaknya disfungsi yang ada. Institusi struktural yang terbentuk dari kesepakatan Bretton Wood tahun 1994 (IMF, WB, dan GATT yang saat ini menjadi WTO ) tidak bisa menjauhkan negara-negara dari keadaan yang sulit ini. justru menambah kesulitan yang ada. Semua krisis pembangunan yang melanda dunia ini berakar dari logika dalam perbedaan ideologi yang nyata dan kebijakan pragmatis yang merujuk pada kata 
“neoliberalism”

Pembangunan model neoliberal telah membawa keterpurukan massif dari standar kehidupan yang seharusnya terjadi, disparitas yang selalu meningkat, kerusakan lingkungan, pengikisan kedaulatan nasional dan melemahkan pembuatan kebijakan yang sarat keadilan sosial.  Yang paling penting, neoliberalism telah melakukan pendefinisian ulang dari “kontrak sosial”

Tujuan dari studi ini adalah menawarkan gambaran analitik dari konteks, kebudayaan, struktur, proses, dan konsekuensi dari neoliberalisme. Pertama, melibatkan penilaian dari sejarah dan evolusi neoliberalisme  sebagai fenomena sosial-politik dari dasar menuju keberadaannya saat ini.  Perspektif kedua melibatkan analisis sistematik dari teori dan praktik neoliberalisme , dari keadaannya saat ini dan efeknya.

Sejarah dan keadaan struktural dari “new economic order” saat ini adalah terdefinisi menjadi tiga parameter struktural yang fundamental  yang merupakan restrukturasi makro ekonomi global. Pertama, akhir Perang Dingin dan runtuhnya sosialis di Negara Kedua yang merupakan klaim kemenangan kapitalisme. Kedua, disintegrasi dan marginlisasi lebih dalam dari Negara Ketiga. Ketiga, terjadinya globalisasi ekonomi dalam skala global yang merupakan sesuatu yang sangat buruk dalam sejarah manusia. Hal terkrusial yang menandakan adanya global rezim ini adalah menyebarluasnya neoliberalisme sebagai hegemon dan diskursus homogenisasi global.

Struktur pembuat keputusan formal dalam rezim ekonomi global terlihat jelas dengan adanya organisasi-organisasi internasional saat ini, seperti GATT yang menjadi WTO, IMF, Bank Dunia, OECD, Group of 8, blok-blok regional seperti ASEAN, Uni Eropa, dan blok perdagangan bebas seperti NAFTA dan MERCOSUR. Hubungan formal antara global dengan pemerintahan domestik ini dihubungkan melalui kesepakatan internasional dan kondisi eksternal yang mempengaruhinya, seperti keadaan fiska, moneter dunia ,dan kebijakan kredit. Hubungan ini dipaksakan oleh ideology universal dan sosialisasi professional oleh orang-orang expert dari dalam negara maupun internasional. Dengan institusi-institusi pembuat kebijakan global ini, elite ekonomi dunia dapat mengelolal kepentingan mereka dan dapat menegosiasi peraturan dari struktur yang ada untuk mendapatkan kepentingannya dan memaksimalkan profit

Efek dari ketidakamanan ekonomi ini  termanifestasi menjadi kemiskinan, tingkat pengangguran yang tinggi dan tingkat ketimpangan strata ekonomi yang sangat besar. Globalisasi ekonomi di bawah formulasi neoliberal telah menjauhkan orang-orang dari pemenuhan kebutuhan dasar mereka sebagai manusia, seperti akses dalam mendapatkan makanan, rumah, dan pekerjaan. Hal ini terjadi karena polarisasi sosial dalam dan antar batasan-batasan yang harus dilakukan oleh negara, yang pada akhirnya berkontribusi menimbulkan status “new centre and periphery” yang tidak lagi berdasarkan wilayah geografi , tetapi dilihat dari ekonomi dan politik grup yang dibedakan menjadi negara-negara “Utara” dan negara-negara “Selatan”. Dengan melihat semua tinjauan di atas, neoliberalisme mungkin adalah salah satu penipuan terbesar dan terelaborasi dengan sangat baik di sejarah modern manusia.

Selengkapnya...

Jumat, 23 Desember 2011

FEMINIST THEORY OF DEVELOPMENT 0

Perspektif feminisme adalah perspektif yang mengkritik tentang ketidaksetaraan gender dalam hal politik, hubungan kekuasaan, dan seksualitas. Dalam perspektif feminisme juga membahas mengenai pembangunan, yang didalamnya dipaparkan mengenai ketidaksetaraan gender, ketidakseimbangan porsi kerja antara laki-laki dan perempuan, dan absennya perempuan dalam setiap pengambilan kebijakan pembangunan maupun perumusan kebijakan secara umum.

Perkembangan teori feminisme pembangunan tidak lepas dari perkembangan perspektif feminisme itu sendiri. Diakuinya teori feminisme pembangunan bersamaan dengan berjalannya gelombang kedua dan ketiga dalam pergerakan feminisme, di mana ketidaksetaraan, kemisikinan, dan hubungan antar gender memunculkan kritik terhadap pembangunan. Teori feminisme pembangunan memberikan pandangan baru mengenai posisi perempuan dalam sistem produksi global. Teori feminisme pembangunan mengkritik posisi perempuan dalam sistem produksi global dinilai memberikan tekanan terhadap perempuan, terutama terhadap perempuan di negara dunia ketiga sehingga memaksakan mereka mengubah status sosial dan keadaan ekonomi mereka. Mereka mengkritik ketidakadilan yang diterima perempuan negara dunia ketiga dalam proses produksi global, di mana mereka tidak mendapatkan upah yang layak yang sesuai dengan tanggung jawab mereka.

Selain itu teori feminisme pembangunan juga melihat pembangunan berkelanjutan dari kacamata feminisme. Kaum feminist beranggapan bahwa perempuan seharusnya tidak hanya bertanggung jawab merawat alam, namun juga perlu produktif dalam pembangunan dan lingkungan.

Selengkapnya...

Kamis, 22 Desember 2011

Poststructuralism, postcolonialism, and postdevelopmentalism 0

Stukturalisme dalam hubungan internasional merupakan perspektif yang memandang bahwa struktur selalu mempengaruhi agen, sedangkan post strukturalisme memandang bahwa agen dalam hubungan internasional mampu mempengaruhi struktur . Post strukturalisme tetap  berpikir secara structural , tetapi direpresentasikan dengan interpretasi yang berbeda dengan menekankan lebih kepada budaya dari ekonomi. Jika strukturalisme menggunakan bahasa ekonomi untuk mengkritik kapitalisme (sistem kelas), postrukturalisme menggunakan bahasa kebudayaan untuk mengkritik modernitas (dipahami sebagai semiotic ), dan jika strukturalisme melihat potensial terhadap emansipasi manusia di pembangunan modern, post sturukturalisme melihat pembangunan adalah strategi dari kekuatan modern dan sebagai kontrol sosial.

Enlightenment atau “Masa Pencerahan” merupakan masa dimana dunia terbagi menjadi dua , dimana pusat dari segala peradaban, pengetahuan dan kearifan berada di Eropa Barat, dan kebodohan, hal-hal yang liar (barbaritas) dan hal-hal yang dianggap kurang baik terdapat di wilayah selain Eropa Barat. Post strukturalis dan Post modern merasa bahwa pemikiran filsuf modern terkait pembangunan modern adalah berbahaya karena indikator-indikator Enlightenment  tentang pembangunan belum tentu bisa diterapkan di budaya yang berbeda. 

Power-knowledge nexus merupakan hubungan antara kekuasaan dengan pengetahuan . individu ataupu instansi yang memiliki pengetahuan yang besar pasti memiliki kekuasaan yang besar pula. Post Colonialism mengkritik dampak kolonialisme terhadap suatu negara . Mereka (penganut Post Kolonialisme) menganggap indicator-indikator pembangunan saat ini terlalu mengarah kepada indicator-indikator yang dibuat oleh Western, sedangkan mereka mempunyai keyakinan bahwa hal itu tidak bisa diterapkan sepenuhnya kepada semua negara karena di setiap negara itu sendiri terdapat nilai-nilai kebudayaan tersendiri .

Selengkapnya...

The End of Development, or a New Beginning? 0

Tulisan ini menjelaskan diskursus antara akhir dari pembangunan dengan awal dari pembangunan itu sendiri. Negara – negara yang telah maju merupakan pemimpin atas pembangunan yang berdasarkan kapitalisme, namun peran itu diduga menurun akibat dari populasi – populasi di negara lain yang menjadi model dari pembangunan saat ini. Hal ini berawal dari sistem pembangunan sebelum abad 20 hingga akhir abad 20.

Sebelum abad 20, pembangunan negara – negara diprioritaskan kepada kepentingan nasional, di mana setiap negara menginginkan negaranya lebih unggul dari negara lain terkait masalah ekonomi. Pada awal abad 20 hingga saat ini, paradigma pembangunan bergeser, yakni dari level negara menjadi level individu yang artinya aktor dari pembangunan tidak lagi hanya negara, tetapi juga individu. Kesamaan model pembangunan masih tetap sama, yakni peningkatan kualitas hidup manusia.

Tulisan ini juga membahas mengenai postdevelopment yang masih berhubungan dengan modernisasi. Postdevelopment ini dipengaruhi oleh poststrukturalisme dimana, krisis Asia pada tahun 1997 menjadi titik tolak bagi teori-teori pembangunan neoklasik. Postdevelopment berhubungan dengan pergerakan – pergerakan antiglobalisasi yang pada akhirnya memberikan wacana ulang terhadap tujuan pembangunan.

Selengkapnya...

Jumat, 07 Oktober 2011

Teori Rostow - 5 Tahap Pembangunan 0

Walt W. Rostow , seorang ahli ekonomi, mengutarakan teori lima tahap pembangunan ekonomi yang pasti akan dilalui oleh suatu negara yang menjadi syarat pembangunan untuk mencapai “status yang lebih maju”. Lima tahap itu antara lain the traditional society, the preconditions for take off, the take-off, the drive of maturity, and  the age of high mass-consumption. The traditional society (masyarakat tradisional) adalah tahap dimana keadaan ekonomi pada masa itu  masih dalam keadaan stagnan dan pendapatan per kapita yang masih rendah. Ini dikarenakan terbatasnya produktivitas dan terbatasnya akses untuk mendapat teknologi yang modern (era pra-Newtonian). Pertanian masih menjadi mata pencaharian utama sehingga padat akan tenaga kerja dan hasilnya tidak disimpan maupun diperdagangkan , melainkan menjadi barang yang dapat ditukar dengan barang lainnya (sistem barter) ataupun untuk konsumsi pribadi. Ditinjau dari aspek sosial, struktur hierarkis menjadi fondasi sosial dengan kepemilikan lahan oleh penguasa lahan. Koneservatif dan menolak akan perubahan merupakan nilai-nilai yang ada di tahap ini. The preconditions for take off atau tahapan transisional merupakan tahap prakondisi bagi pertumbuhan dipersiapkan. Pada masa ini,sudah dimulai adanya kebutuhan untuk pendanaan asing bagi pertanian. Selain itu, tingkat orang menabung dan menginvestasikan apa yang mereka punya meningkat . Hal lain yang menjadi karakteristik tahapan ini adalah adanya lembaga dan organisasi tingkat nasional dan elit-elit baru dalam kehidupan sosialnya.
The take off atau tahap lepas landas adalah tahap yang mengindikasikan mulanya proses pertumbuhan ekonomi secara berkesinabungan. Industrialisasi yang meningkat di setiap daerah yang beriringan dengan sector pertanian yang menurun, inovasi teknologi yang berkembang pesat, mulainya perumbuhan sector manufaktur adalah beberapa contoh dimulainya masa lepas landas ini. Revolusi politik yang terjadi menjadi stimulus ekonomi yang mengakibatkan peningkatan pertumbuhan regional. Tabungan dan investasi semakin meningkat dengan melihat laju presentase yang naik sekitar 5-10% dari pendapatan nasional . Semua ini mengakibatkan munculnya pengaturan kelembagaan untuk menunjang efisiensi dalam pengelolaan (semisal sistem perbankan). Tahap keempat adalah the drive to maturity atau tahapan pergerakan menuju kematangan ekonomi. Pada tahap ini, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, diversifikasi industri  dan penggunaan teknologi secara meluas menjadi ciri-ciri dominan yang mengindikasikan adanya pergantian tahap dari tahap sebelumnya. Pembangunan pun meluas ke sector-sektor baru dan dalam hal investasi dan tabungan, tahap ini mengalami peningkatan sekitar 10-20 persen dari pendapatan nasional. Dan Tahap terakhir, yaitu tahap the age of high mass-consumption atau tahap produksi dan konsumsi massal bersifat industri merupakan tahap yang umumnya disebut tahap pembangunan atau development stage. Tahap terakhir ini didominasi bidang jasa, karena dapat terlihat pada masa ini proporsi ketenagakerjaan yang tinggi di bidang jasa, meluasnya konsumsi atas barang-barang yang tahan lama dan jasa yang ditawarkan , dan peningkatan pembelajaan untuk jasa-jasa yang bersifat mendatangkan kemakmuran. 
Selengkapnya...

Teori Pembangunan Konvensional, Kritik dan Solusi Terkini (Pertemuan ke-II) 0

Teori pembangunan konvensional yang selama ini kita yakini, dalam 20 tahun belakangan mendapatkan kritkan yang tajam terkait ketidakpuasan teori dalam menjelaskan realita yang ada . Teori konvensional mempunyai indikator suatu negara dapat dikatakan berkembang jika dapat memenuhi prasyarat yang mereka telah tetapkan, dan kesejahteraan menurut mereka berdasarkan pada sistem capital yang menyatakan “development equals monetary wealth”.  Dalam kenyataannya, teori konvensional ini justru hanya membuat negara yang kaya semakin kaya dan negara berkembang bahkan miskin semakin miskin. Dua hal yang dipertanyakan para kritikus adalah semua hasil distribusi sumber daya bukan mengalir kepada masyarakat banyak tetapi justru hanya ke sedikit golongan orang-orang kaya dan menurut teori pembangunan konvensional menyatakan bahwa Negara Dunia Ketiga tidak mungkin untuk menjadi negara yang mapan, terkait pertanyaan “pembangunan apa?” dan “apa yang harus dibangun?” yang dilontarkan kritikus. Mereka menyimpulkan bahwa teori pembangunan saat ini bukanlah representatif apa yang dibutuhkan oleh semua orang, tetapi pembangunan yang terbaik menurut pemilik modal, dan beberapa orang yang dibayar oleh orang-rang kapitalis, sehingga disebut “Capitalist Development Theory”. Salah satu contoh yang dapat menguatkan pernyataan tersebut adalah adanya penerapan "Structural Adjustment Packages" oleh World Bank.
            Semua hal ini sebenarnya terkait akan reorganisasi tentang cara pandang dan cara memenuhi kebutuhan untuk menjadi sejahtera. Bagi teori pembangunan konvensional , semua hal yang terkait sejahtera disamakan dengan keuangan yang bagus sehingga dapat memenuhi syarat keadaan kesejahteraan yang sudah dtetapkan. Berbeda dengan sebelumnya , pandangan alternatif , yang merupakan solusi dari kritikan yang ada,  menyatakan bahwa semua pembangunan itu sangat dipengaruhi oleh tujuan pembangunan yang didasari pelayanan dan hal-hal yang hanya tidak dapat dilihat dan hanya dapat dirasakan dirasakan yang akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas kehidupan. Contoh yang dapat diberikan adalah kesejahteraan penduduk wilayah Ladakh di sebuah daratan Tibet. Walaupun secara GNP mereka tidak terlalu baik atau rata-rata, tetapi mereka mempunyai kultur yang kuat ,dengan memadukan sumber daya yang ada dan ekologi dalam kehidupan sehari-harinya, mendefinisikan apa itu kesejahteraan tanpa adanya modernisasi yang selama di terapkan oleh negara Barat. Mengacu dari Ladakh,   Global Ecovillage Movement muncul sebagai solusi alternative dimana setiap negara memungkinkan untuk membangun kehidupan mereka sendiri berbasis ketahanan ekologi dan kehidupan yang sederhana. 
Selengkapnya...