Jumat, 07 Oktober 2011

Rio Andriawan (Pertemuan ke-II)


Pertemuan ke-2

Selama ini pembangunan dan implementasinya belumlah berjalan dengan baik , malah semakin memburuk. Teori pembangunan yang konvensional selama 20 tahun belakangan,mendapatkan kritik karena ketidakpuasan teori untuk menjelaskan realita selama ini. Teori konvensional mempunyai indikator bahwa suatu negara dapat dikatakan berkembang jika dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan, sedangkan kesejahteraan berdasarkan sistem kapital “development equals monetary wealth” dimana dalam implementasinya teori konvensional akan hanya membuat negara kaya semakin kaya,dan negara berkembang, tetap berkembang bahkan semakin miskin. hal penting yang selalu  dipertanyakan para kritikus adalah semua Bahwa semua hasil distribusi sumber daya bukan didistribusikan kepada masyarakat,tapi justru banyak kepada golongan orang kaya,elit,kelompok kepentingan tertentu. Teori pembangunan konvensional memandang pesimis bahwa negara dunia ketiga tidak mungkin untuk menjadi negara mapan.. Ada pertanyaan besar yaitu “pembangunan apa?” dan “apa yang harus dibangun?” yang dilontarkan oleh para kritikus. Mereka meyimpulkan bahwa teori pembangunan sekarang tidak representatif semua yang dibutuhkan masyarakat. Tapi pembangunan yang terbaik menurut pemilik modal dan berapa orang yang harus dibayar oleh orang-orang kapitalis sehingga disebut “Capitalist Development Theory” (teori pembangunan kapitalis). Salah satu contoh yang dapat menegaskan  pernyataan tersebut adalah adanya implementasi "Structural Adjustment Packages" oleh World Bank.
            segala hal ini sebenarnya berhubungan dengan reorganisasi tentang bagaimana  sudut pandang dan cara memenuhi kebutuhan untuk menjadi sejahtera dan makmur. Bagi teori pembangunan konvensional , segala hal yang berhubungan dengan sejahtera disamakan dengan finansial yang bagus sehingga dapat memenuhi syarat  kesejahteraan yang telah ditetapkan. Berbeda sekali dengan pandangan alternatif, yang sementara ini digunakan sebagai solusi dari kritikan-kritikan yang ada, yang menyatakan bahwa semua pembangunan itu sangat dipengaruhi oleh tujuan pembangunan yang dilatar belakangi oleh pelayanan dan dasarnya pada peningkatan kualitas hidup. Contoh yang riil yaitu kesejahtraan Ladakh di sebuah daratan tibet. Walaupun secara GNP mereka tidak terlalu baik atau rata-rata,tapi mereka memiliki kultur yang kuat.dengan memadukan sumber daya yang ada dan ekologi dalam kehidupan sehari-hari, mendifinisikan apa itu kesejahteraan tanpa adanya modernisasi yang selama ini di implementasikan oleh negara barat. Ditinjau dari Ladakh,Global Ecovillage Movement muncul sebagai solusi alternatif dimana setiap negara memungkinkan untuk membangun kehidupan mereka sendiri yang berbasis kehidupan yang sederhana. ketahanan ekologi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar