Bahan Minggu ke 2
WHAT DOES DEVELOPMENT MEAN ?
Selama dalam kurun 20 tahun, kita dapat melihat bahwa pembangunan tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Hal ini dapat dilihat dari data penelitian milik PBB di tahun 1996, yakni: sekitar sepertiga penduduk dunia kondisi ekonominya memburuk, bahkan jauh lebih buruk dibanding tahun 1980an. Dari data itu pula dapat dilihat sebanyak 89 negara dari 174 negara mengalami penurunan dibanding 10 tahun sebelumnya, juga sebanyak 19 negara dinilai tidak lebih baik kondisinya dibanding tahun 1960. Sebuah riset menunjukkan ada 2 faktor utama penyebab terjadinya hal tersebut: 1. Faktanya, pembangunan lebih difokuskan untuk orang-orang kaya, bukan untuk masyarakat luas; 2. Masih banyak yang salah mengartikan, pembangunan itu ialah untuk mencapai taraf hidup setara orang-orang kaya. Masyarakat dunia ketiga seakan dipaksa mencapai taraf hidup seperti di negara-negara kaya, yang tentu saja tidak mungkin dilakukan. Jika dipaksakan, maka sumber daya yang ada di bumi akan cepat habis, karena tiap orang memiliki tingkat konsumsi yang sama. Sebagai contoh, kita bisa melihat dari kasus persediaan minyak tanah yang kini telah hampir mencapai limit.
Ada dua teori mengenai hal ini. Teori alternatif menegaskan perlunya reorganinasi. Maksudnya penggunaan sumber daya hanya seperlunya saja, tanpa memperdulikan ‘standar hidup’. Pembangunan yang seperti ini tidak memerlukan biaya – atau minimal hanya mengeluarkan biasa yang sedikit, serta tidak bergantung pada GNP. Sementara teori konvensional menyebutkan masyarakat dunia ketiga memang tidak akan mampu menyamai taraf hidup seperti orang-orang kaya, yang dilakukan hanyalah menunggu dan menunggu, sementara faktanya pemerintah mengahbiskan sumber daya yang dimilikinya untuk orang-orang kaya sembari mengumbar janji kebijakan tersebut nantinya akan berdampak besar bagi mereka. Ekonom konvensional berpendapat yang terpenting adalah GNP yang tinggi, produktivitas tinggi, dan yang menguntungkan para pemilik modal. Tetapi benarkah harus selalu mengenai 3 faktor itu ? Ambil contoh penduduk di Ladakh, sebuah daerah di wilayah Tibet. Mereka tidak memiliki teknologi modern, tidak memperdulikan GNP, tidak memperdulikan produktivitas tinggi, menjalani segala sesuatunya dengan santai. Dan dapat dikatakan, penduduk Ladakh seluruhnya sejahtera. Hal ini menunjukkan apa yang dikemukakan oleh teori konvensional adalah tidak benar. Terinspirasi dari penduduk Ladakh, mucullah solusi yakni Global Ecovillage Movement.
Bahan Minggu ke 3
THE STAGES OF ECONOMIC GROWTH
Menurut W.W Rostow ada 5 tahap pertumbuhan ekonomi, yakni:
1. The Traditional Society
Sesuai namanya, masyarakat disini masih tradisional. Mereka belum mengenal teknologi modern, sehingga menyebabkan produktivitas masih rendah. Masyarakat tradisonal masih bergantung terhadap mata pencaharian di sektor pertanian (pre-Newtonian).
2. The Preconditions for Take-off
Tahap ini merupakan tahap transisi, dimana teknologi modern mulai digunakan di sektor pertanian dan industri. Karena modernisasi ini merupakan hal yang baru, tentu saja masyarakat tradisional membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
3. The Take-off
Investasi modal semakin naik di tahap ini. Indsutrialisasi kian marak, serta modernisasi teknologi dalam berbagai sektor tak terkecuali pertanian. Di tahap ini petani sudah mampu menerima teknologi baru yang diterapkan.
4. The Drive to Maturity
Di tahap ini pertumbuhan ekonomi makin meningkat. Sektor-sektor industri baru makin berkembang pesat. Teknologi yang digunakan juga makin berkembang dan kompleks dibanding di tahap take-off.
5. The Age of Mass Consumption
Tahap ini adalah tahap terakhir dari pertumbuhan ekonomi. Teknologi jadi jauh lebih meningkat, dan konsumsi terhadap sandang, pangan, papan makin tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar