Teori pembangunan konvensional yang selama ini kita yakini, dalam 20 tahun belakangan mendapatkan kritkan yang tajam terkait ketidakpuasan teori dalam menjelaskan realita yang ada . Teori konvensional mempunyai indikator suatu negara dapat dikatakan berkembang jika dapat memenuhi prasyarat yang mereka telah tetapkan, dan kesejahteraan menurut mereka berdasarkan pada sistem capital yang menyatakan “development equals monetary wealth”. Dalam kenyataannya, teori konvensional ini justru hanya membuat negara yang kaya semakin kaya dan negara berkembang bahkan miskin semakin miskin. Dua hal yang dipertanyakan para kritikus adalah semua hasil distribusi sumber daya bukan mengalir kepada masyarakat banyak tetapi justru hanya ke sedikit golongan orang-orang kaya dan menurut teori pembangunan konvensional menyatakan bahwa Negara Dunia Ketiga tidak mungkin untuk menjadi negara yang mapan, terkait pertanyaan “pembangunan apa?” dan “apa yang harus dibangun?” yang dilontarkan kritikus. Mereka menyimpulkan bahwa teori pembangunan saat ini bukanlah representatif apa yang dibutuhkan oleh semua orang, tetapi pembangunan yang terbaik menurut pemilik modal, dan beberapa orang yang dibayar oleh orang-rang kapitalis, sehingga disebut “Capitalist Development Theory”. Salah satu contoh yang dapat menguatkan pernyataan tersebut adalah adanya penerapan "Structural Adjustment Packages" oleh World Bank.
Semua hal ini sebenarnya terkait akan reorganisasi tentang cara pandang dan cara memenuhi kebutuhan untuk menjadi sejahtera. Bagi teori pembangunan konvensional , semua hal yang terkait sejahtera disamakan dengan keuangan yang bagus sehingga dapat memenuhi syarat keadaan kesejahteraan yang sudah dtetapkan. Berbeda dengan sebelumnya , pandangan alternatif , yang merupakan solusi dari kritikan yang ada, menyatakan bahwa semua pembangunan itu sangat dipengaruhi oleh tujuan pembangunan yang didasari pelayanan dan hal-hal yang hanya tidak dapat dilihat dan hanya dapat dirasakan dirasakan yang akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas kehidupan. Contoh yang dapat diberikan adalah kesejahteraan penduduk wilayah Ladakh di sebuah daratan Tibet. Walaupun secara GNP mereka tidak terlalu baik atau rata-rata, tetapi mereka mempunyai kultur yang kuat ,dengan memadukan sumber daya yang ada dan ekologi dalam kehidupan sehari-harinya, mendefinisikan apa itu kesejahteraan tanpa adanya modernisasi yang selama di terapkan oleh negara Barat. Mengacu dari Ladakh, Global Ecovillage Movement muncul sebagai solusi alternative dimana setiap negara memungkinkan untuk membangun kehidupan mereka sendiri berbasis ketahanan ekologi dan kehidupan yang sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar