WEEK 9: Post-Development
Pembangunan yang awalnya diyakini bisa mengatasi berbagai masalah keterbelakangan khususnya di negara Dunia Ketiga, ternyata gagal dan malah menimbulkan masalah-masalah baru. Pembangunan mengalami banyak kegagalan, misalnya tentang modernitas, pembangunan yang identik dengan modernisasi sering kali berdampak pada perbudakan harkat manusia. Dengan banyaknya kegagalan yang telah ditimbulkan oleh pembangunan, melatarbelakangi munculnya kaum Post-Development. Kaum Post-Dev menolak secara keseluruhan gagasan dan pandangan kaum Development. Menurut kaum Post-Dev, tujuan sesungguhnya dari pembangunan adalah kendali oleh manusia secara adil dan peniadaan dominasi kaum mayoritas. Kritik kaum Post-Dev adalah kesalahan pemahaman pada konsep pembagunan, bahwa model pembangunan yang ditawarkan oleh Barat sifatnya homogen (hanya berdasarkan pengalaman negara-negara Barat – universalisasi pengalaman Barat) akan mustahil diterapkan di semua negara, khususnya negara Dunia Ketiga, padahal tiap-tiap negara memiliki mekanisme sendiri dalam pembangunannya. Konsep tradisional pembangunan yang Eurosentris, yaitu labeling terhadap bangsa Eropa dan Amerika Utara sebagai developed dan Asia, Afrika, Amerika Latin sebagai underdeveloped. Pembangunan lebih baik dihapuskan dan mencari alternatif pembangunan itu sendiri, bukannya mencari alternatif untuk memperbaiki masalah-masalah yang ditimbulkan antara lain kemiskinan, kesenjangan sosial dan kerusakan lingkungan akibat industrialisasi. Selanjutnya, Post-Dev juga lebih berorientasi serta mempertahankan budaya dan kearifan lokal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar