Krisis finansial pada tahun 1998 telah menjadikan keadaan global saat ini riskan akan krisis-krisis selanjutnya. Hal ini juga menandakan akan adanya krisis yang sangat besar dalam penerapan teori dan praktik pembangunan internasional. Efek domino di perekonomian Asia , Amerika Latin dan Eropa Timur mengindikasikan ketidakmampuan rezim ekonomi dunia untuk memprediksi, mempreventif dan mengelola banyaknya disfungsi yang ada. Institusi struktural yang terbentuk dari kesepakatan Bretton Wood tahun 1994 (IMF, WB, dan GATT yang saat ini menjadi WTO ) tidak bisa menjauhkan negara-negara dari keadaan yang sulit ini. justru menambah kesulitan yang ada. Semua krisis pembangunan yang melanda dunia ini berakar dari logika dalam perbedaan ideologi yang nyata dan kebijakan pragmatis yang merujuk pada kata
“neoliberalism”
Pembangunan model neoliberal telah membawa keterpurukan massif dari standar kehidupan yang seharusnya terjadi, disparitas yang selalu meningkat, kerusakan lingkungan, pengikisan kedaulatan nasional dan melemahkan pembuatan kebijakan yang sarat keadilan sosial. Yang paling penting, neoliberalism telah melakukan pendefinisian ulang dari “kontrak sosial”
Tujuan dari studi ini adalah menawarkan gambaran analitik dari konteks, kebudayaan, struktur, proses, dan konsekuensi dari neoliberalisme. Pertama, melibatkan penilaian dari sejarah dan evolusi neoliberalisme sebagai fenomena sosial-politik dari dasar menuju keberadaannya saat ini. Perspektif kedua melibatkan analisis sistematik dari teori dan praktik neoliberalisme , dari keadaannya saat ini dan efeknya.
Sejarah dan keadaan struktural dari “new economic order” saat ini adalah terdefinisi menjadi tiga parameter struktural yang fundamental yang merupakan restrukturasi makro ekonomi global. Pertama, akhir Perang Dingin dan runtuhnya sosialis di Negara Kedua yang merupakan klaim kemenangan kapitalisme. Kedua, disintegrasi dan marginlisasi lebih dalam dari Negara Ketiga. Ketiga, terjadinya globalisasi ekonomi dalam skala global yang merupakan sesuatu yang sangat buruk dalam sejarah manusia. Hal terkrusial yang menandakan adanya global rezim ini adalah menyebarluasnya neoliberalisme sebagai hegemon dan diskursus homogenisasi global.
Struktur pembuat keputusan formal dalam rezim ekonomi global terlihat jelas dengan adanya organisasi-organisasi internasional saat ini, seperti GATT yang menjadi WTO, IMF, Bank Dunia, OECD, Group of 8, blok-blok regional seperti ASEAN, Uni Eropa, dan blok perdagangan bebas seperti NAFTA dan MERCOSUR. Hubungan formal antara global dengan pemerintahan domestik ini dihubungkan melalui kesepakatan internasional dan kondisi eksternal yang mempengaruhinya, seperti keadaan fiska, moneter dunia ,dan kebijakan kredit. Hubungan ini dipaksakan oleh ideology universal dan sosialisasi professional oleh orang-orang expert dari dalam negara maupun internasional. Dengan institusi-institusi pembuat kebijakan global ini, elite ekonomi dunia dapat mengelolal kepentingan mereka dan dapat menegosiasi peraturan dari struktur yang ada untuk mendapatkan kepentingannya dan memaksimalkan profit
Efek dari ketidakamanan ekonomi ini termanifestasi menjadi kemiskinan, tingkat pengangguran yang tinggi dan tingkat ketimpangan strata ekonomi yang sangat besar. Globalisasi ekonomi di bawah formulasi neoliberal telah menjauhkan orang-orang dari pemenuhan kebutuhan dasar mereka sebagai manusia, seperti akses dalam mendapatkan makanan, rumah, dan pekerjaan. Hal ini terjadi karena polarisasi sosial dalam dan antar batasan-batasan yang harus dilakukan oleh negara, yang pada akhirnya berkontribusi menimbulkan status “new centre and periphery” yang tidak lagi berdasarkan wilayah geografi , tetapi dilihat dari ekonomi dan politik grup yang dibedakan menjadi negara-negara “Utara” dan negara-negara “Selatan”. Dengan melihat semua tinjauan di atas, neoliberalisme mungkin adalah salah satu penipuan terbesar dan terelaborasi dengan sangat baik di sejarah modern manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar