Jumat, 07 Oktober 2011

Review pertemuan Kedua dan Ketiga/ Rio Adriano/ 105120400111003

Review minggu ke dua

WHAT DOES DEVELOPMENT MEAN? A REJECTION OF THE UNDIMENSIONAL CONCEPTION

Teori serta praktek pembangunan yang diharapkan dapat menjadikan hidup lebih baik, ternyata malah membuat kondisi banyak orang semakin memprihatinkan. Atas kejadian ini, ada dua argument yang dikemukakan, yaitu yang pertama 1) selama sumber daya alam masih dengan bebas di distribusikan ke dalam pasar, maka keuntungan hanya akan didapat oleh para pemilik modal. 2) dengan standar yang diterapkan oleh teori pembangunan konvensional, maka akan tidak mungkin bagi Negara dunia ketiga untuk menyamai taraf hidup Negara-negara maju. Kenapa poin kedua bisa terjadi? Hal ini dikarenakan kebanyakan dari Negara dunia ketiga adalah Negara-negara yang hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah tanpa memilik resources yang lain, yaitu teknologi dan modal. Dengan hanya memiliki SDA saja, maka akan sangat terbuka peluang untuk dieksploitasi oleh para pemilik modal yang berasal dari Negara-negara maju. Hal ini malah menjadikan teori pembangunan lebih seperti sebuah selubung dari kapitalisme. Dalam pembangunan sangatlah dibutuhkan modal. Bagi Negara yang sudah maju dan kaya, hal ini tentu tidaklah menjadi masalah. Pembangunan akan berjalan lebih lancar daripada Negara dunia ketiga yang ‘hanya’ memiliki sedikit modal. Selain itu, pembangunan itu dikonsepsikan sebagai pe-modern-an sebuah Negara. Dan modern itu adalah barat. Jadi bisa dibilang pembangunan itu sendiri adalah paradigma dari barat yang notabene sudah maju, untuk bisa menguasai sumber daya alam yang ada di Negara-negara berkembang, selain memajukannya juga.

Teori pembangunan konvensional, yang melihat sisi pembangunan dari sisi ekonomi saja. Dimana apabila kemampuan ekonomi suatu Negara sudah dapat memenuhi standar sejahtera yang telah ditetapkan itulah, baru Negara itu bisa disebut berhasil dalam pembangunan. Sedangkan teori alternatifnya, lebih mengutamakan peningkatan kualitas kehidupan. Dimana uang tidak selalu dapat dijadikan taraf untuk memberi predikat keberhasilan dalam pembangunan. Disini muncul suatu daerah yang bernama Ladakh, yang terletak di daratan Tibet. Dengan tingkat GNP yang relatif rendah, tapi mereka dapat hidup bahagia dalam kesederhanaannya. Tanpa berbagai produk kapitalisme modern, mereka dapat hidup dengan sederhana dengan budaya mereka sendiri, dan yang terpenting, mereka bahagia. Dari sini muncul pertanyaan, sebenarnya untuk apa pembangunan itu dilakukan? Padahal Ladakh dengan kehidupan yang sangat tradisional, sudah mampu menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi penduduknya. Untuk apa lagi dilakukan pembangunan? Apa lagi yang harus dibangun?



Review Minggu ke tiga

TEORI PERTUMBUHAN ROSTOW

Dalam setiap kondisi ekonomi sebuah Negara, adalah sebuah hal yang pasti bahwa Negara itu akan mengalami lima periode suatu kondisi perekonomian, yaitu 1) Traditional Society 2) The Preconditions for Take Off. 3) The Take Off. 4) The Drive to Maturity 5) The Age of High Mass Consumption.

1) Traditional Society : masyarakat tradisional yang masih sangat terbatas dalam berbagai hal. Menggunaakan berbagai metode tradisional karena sains dan hal-hal modern belumlah ada.a

2) The Preconditions for Take Off : proses modernisasi awal. Dimana dari hal-hal yang berbau tradisional mulai diganti dengan hal-hal yang lebih modern dan lebih menggunakan sains

3) The Take Off : sebuah interval dimana pembangunan telah stabil, begitu juga perekonomiannya.

4) The Drive to Maturity : penggunaan teknologi modern terjadi di tahap ini. Terjadi efisiensi produk-produk modern. Sektor-sektor yang dikuasai oleh pemimpin lama akan tergusur oleh sektor-sektor pemimpin yang baru

5) The Age of High Mass Consumption : terjadinya suatu perilaku yang konsumtif ke arah benda-benda dan jasa yang lebih dapat digunakan dalam jangka yang panjang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar