Jumat, 25 November 2011

DWI FEBRI O - 0911240048


Week 7: Post-Colonialism

Edward Said dengan bukunya Orientalism (1979) mencoba menawarkan ide post-strukturalis, yaitu Dunia Pertama dan Dunia Ketiga. Teori-teori Marxis dan Neo-Marxis mendominasi kritik terhadap pembangunan antara tahun 1960an hingga awal 1980an hanya memfokuskan kritiknya pada kapitalisme dunia. Perspektif Post-Kolonialisme membahas eksistensi Barat terhadap negara-negara terjajah (Timur). Dalam sebuah kolonialisasi terjadi dua hal, yang pertama adalah bahwa si penjajah diuntungkan dalam banyak bidang dan yang kedua adalah bahwa yang terjajah akan mendapat beberapa keuntungan pula dengan masuknya kolonialisasi, sebab penjajah secara tidak langsung akan membawa nilai-nilai baru yang positif, diantaranya adalah teknologi. Jadi kolonialisasi tidak sepenuhnya bersifat negatif. Namun, kolonialisme era modern yang terjadi saat ini (imperialisme), malah sifatnya lebih rumit. Mengapa? Sebab negara-negara terjajah hingga sekarangpun masih saja terjajah oleh nilai-nilai yang ditinggalkan oleh si penjajah. Secara tidak sadar, negara terjajah menganggap nilai-nilai yang ditinggalkan oleh si penjajah adalah hal yang benar dan selama itu pula negara terjajah akan terus dijajah.
Edward Said dengan Orientalisme-nya merujuk pada sangkaan Erosentris (warisan penjajahan Eropa, seperti Prancis, Inggris, Belanda) terus-menerus atas orang-orang arab dan kebuyaan arab (Orient / East). Said menyimpulkan bahwa penulis Barat menghadirkan Timur sebagai irasional, lemah, feminis, sebaliknya, Barat  memiliki sifat rasional, kuat, dan Maskulin. Melalui Orientalisme-nya, Edward Said sebagai penulis dari Timur ingin mengkritik Barat yang selama ini menjadikan Timur sebagai objek kajian. Pandangan tentang orang Timur masih dari perspektif, angan-angan, dan khayalan Barat. Ironisnya lagi, hal itu menjadi standar akademis di Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar