Week 7 : Poststructuralism, Postcolonialism, dan Postdevelopmentalism
Bermula dari pemikiran para teoritis post-strukturalis dan post-modernis mengenai pembangunan yang berfokus pada modern rational thinking dan mengacu pada suatu hal yang disebut “progress”, menyebabkan pemikiran masyarakat pada pembangunan hanya berdasarkan pada ide dan pemikiran rasional yang menitikberatkan pada science dan teknologi sebagai sumber baru bagi material progress dan kesejahteraan manusia. Science dianggap dapat menggantikan agama (religion) sebagai modus utama dari suatu pemahaman manusia.
Negara-negara Eropa Barat dianggap sebagai penemu apa yang disebut sebagai “rasonalitas” sehingga rasionalitas yang dipakai dalam pembangunan mengacu pada rasionalitas yang terdapat di negara-negara Eropa Barat saja.
Modern rational thinking, yang memisahkan antara kepercayaan (beliefs) dan science bukannya diterima begitu saja, namun terdapat pula penolakan-penolakan mengenai standar ini . tokoh-tokoh yang mengkritisi standar ini antara lain :
· Giovanni Battista Vico :
Vico cenderung lebih condong pada kekuatan irasional yang dia pikir hal inilah yang membentuk sifat manusia secara alami dan lebih menyukai sesuatu yang "umum" daripada sesuatu yang rasional
· Friedrich Nietzsche :
Kehidupan modern, kata Nietzsche, dipaksa untuk menemukan dirinya sendiri pada prinsip-prinsip semangat, kemajuan, dan kebenaran. Namun, dunia modern membawa sebuah pemiskinan pengalaman untuk tingkat dimana orang tidak lagi bisa menemukan makna dari suatu kebenaran
· Edmund Husserl :
Ketidakmampuan Sains empiris untuk menyediakan jawaban untuk pertanyaan evaluatif normatif (bermakna).
· Michel Foucault :
Foucault mengajukan dua kritik terhadap filosofi humanisme rasional modern. Pertama, rasioanl modern digunakan untuk menciptakan suatu image masyarakat universal yang sesuai dengan sifat dan kebudayaan dari masyarakat Eropa. Kedua, nilai-nilai dan cita-cita emansipatoris dari Pencerahan Eropa (otonomi, kebebasan, hak asasi manusia, dll) adalah dasar ideologis untuk "menormalkan" suatu disiplin yang memaksakan sebuah "identitas yang sesuai" pada orang modern.
Sedangkan untuk post-kolonialisme, lebih menekankan pada proses kolonisasi pada era modern. Yang lebih menekankan pada kolonisasi bahasa, literature, sejarah, sosiologi, antropologi dan geografi. Post-kolonialis telah menyebabkan negara-negara dunia ketiga tidak dapat melepaskan diri dari apa yang disebut dengan Eropa-Sentris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar