Development discourse and its critics: An introduction to post-development
Selama tahun 1980an, beberapa sarjana dan aktifis menunjukkan ketidakpuasan dengan konsep dan praktek dari ‘pembangunan’ yang dengan tegas menyebut jika itu tidak membawa hasil yang lebih baik, versi alternatif dari teori tersebut, tapi mengilangkannya secara keseluruhan. Terinspirasi dari karya Ivan Illich, tapi juga Foucault, Gandhi, Polanyi dan lainnya, suatu grup penulis berkolaborasi untuk menghasilkan yang pertama diantara 3 karya besar yang seringkali terlihat sebagai wakil post-development : (1) the Development Dictionary (Sachs 1992). 17 penulis terutama dari south yang keseluruhan kecewa dengan kebijakan pembangunan yang ada, dan menyatakan sebagai perkenalan selama 40 tahun yang dikenal dengan masa pembangunan. Selepas cold war, kebijakan tidak mengarah pada ‘developing world’ namun semakin melebarnya jarah antara kaya dan miskin. (2) monografi Escobar Encountering Development, dia menaruh pandangannya jauh maju jika wacana pembangunan telah menghasilkan aparat efisien dengan ekstrim yang menghasilkan pengetahuan disana sini, dan menjalankan kekuasaan setelahnya, the Third World. Dalam wacana ini, dia mengklaim jika bentuk pengetahuan dan subjektifitas berhubungan dengan sistem kekuasaan, dan banyak pendekatan alternatif untuk pembangunan diformulasikan ke dalam kritik utama mereka tentang kebijakan pembangunan hanya sebatas pada wacana tersebut. (3) The Post-Development Reader (Rahnema with Bawtree 1997). Disini, pembangunan dianalisis sejalan dengan Illich sebagai ‘ancaman terhadap otonomi masyarakat’.
Kritik terhadap post-development. (1) kritik datang dari Stuart Corbridge, penulis post-development melalaikan aspek positif modernisasi, pembangunan, ilmu, teknologi, dan mengganti perbedaan antara ‘West’ dan ‘Rest’ untuk akun murni. Dia juga mengingatkan jika pandangan bahwa kemiskinan adalah sebagian besar definisi yang tepat untuk si kaya dan kekuatannya. (2) Kiely menunjukkan kelemahan post-development yang terdapat pada inkonsisten metodologikal, inkonsisten anti-essentialism, dan khususnya masalah relativism. Bagaimanapun kritik panas terdengar dari oposisi terhadap post-development telah menggelapkan fakta bahwa 2 hipotesis paling signifikan dari aliran ini diterima secara implisit oleh pengkritik, antara lain yang pertama, konsep tradisional ‘development’ merupakan Eurocentric. Konsep yang memberi label Western, Eropa, dan Amerika Utara sebagai ‘developed’ dan Afrika, Asia, dan Amerika Latin sebagai ‘underdeveloped’ adalah konstruksi eurosentrik di dalam masyarakatnya sendiri. Yang kedua, konsep tradisional development merupakan maksud dari otoritarian dan teknokrat. Siapa yang bisa mendefinisikan ‘development’ dan bagaimana cara memperolehnya adalah posisi kekuasaan.
Kamis, 08 Desember 2011
Adha Panca Wahyu Adika/105120400111040
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar