Jumat, 09 Desember 2011

Fitrotin Azizah (105120401111026)

Exploring Post-Development

Minggu ke-8

Pada awal perkembangannya, pembangunan menjadi suatu upaya untuk mengatasi keterbelakangan, terutama di negara-negara dunia ketiga. Dari masa ke masa pun pembangunan mengalami beberapa perubahan. Hal ini dapat dilihat pada masa kolonialisasi di mana pembangunan menjadi semacam legitimasi untuk membebaskan manusia di dunia ketiga dari ketidakdewasaan dan irasionalitas mereka. Sementara itu pasca Perang Dunia II, pembangunan mulai dijalankan dengan menggunakan institusi-institusi yang menjadi penyokongnya. Di sini dapat dilihat bahwa keterbelakangan di dunia ketiga menjadi masalah tersendiri bagi negara-negara maju dan karenanya dibutuhkan suatu upaya untuk menanganinya yakni dengan melakukan transfer pengetahuan untuk mendukung terlaksananya modernisasi.

Akan tetapi pada perkembangannya, alih-alih meningkatkan kemakmuran di dunia ketiga, pembangunan justru tidak menghasilkan perubahan yang cukup signifikan bahkan semakin menciptakan masalah-masalah baru. Setidaknya ada tiga masalah besar yang menjadi tantangan bagi pembangunan, antara lain kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, disintegrasi sosial serta degradasi lingkungan. Meski telah dilaksanakan pembangunan,banyak negara di dunia ketiga masih mengalami permasalahan berupa peningkatan angka kemiskinan, adanya kesenjangan yang cukup lebar antara yang kaya dengan yang miskin, serta masalah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ketidaklayakan teknologi yang dipakai dalam industrialisasi, minimnya kontrol pemerintah serta adanya perusahaan-perusahaan multinasional yang merusak lingkungan secara massif.

Adanya kegagalan pada pembangunan dalam menciptakan kemakmuran (di dunia ketiga) itulah yang melatarbelakangi munculnya berbagai pemikiran dari tokoh-tokoh post-development. Post-development adalah sebuah kritik radikal terhadap pembangunan yang berkembang pada sekitar tahun 1980 dan menolak konsep pembangunan secara keseluruhan dengan alasan bahwa pembangunan yang ada selama ini sangat eurocentris. Pembangunan dinilai sebagai upaya Barat untuk mengendalikan dan menguasai dunia ketiga. Mereka menganggap pembangunan gagal tidak hanya dikarenakan ketidakmaksimalan dalam mengimplementasikan kebijakan, akan tetapi juga disebabkan adanya kesalahan dalam memahami masalah pembangunan yang didasarkan pada universalisasi pengalaman Barat. Selain itu, mereka juga berpendapat bahwa daripada mencari pembangunan alternatif bagi masalah-masalah pokok seperti kemiskinan, keterasingan dan kesenjangan, yang perlu dilakukan adalah lebih kepada pencarian terhadap alternatif bagi pembangunan itu sendiri. Beberapa tokoh post-development menyatakan bahwa alternatif bagi pembangunan adalah sebuah panggilan pada cara baru tentang perubahan, pembangunan, yang selama ini dikontruki oleh proyek pembangunan pasca Perang Dunia II. Dengan kata lain, alternatif bagi pembangunan adalah suatu upaya untuk mencapai masyarakat yang lebih baik dengan cara yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar