Jumat, 16 Desember 2011

Dwita Kurnia Mahardhika - 105120401111028


Globalization, Neoliberalism, and the State of Underdevelopment in the New Periphery

Keadaan ekonomi seperti sekarang ini dapat dijelaskan melalui tiga parameter struktural yang mendasar. Hal yang pertama adalah berakhirnya perang dingin dan runtuhnya ideologi sosialis. Keadaan ini dapat dikatakan sebagai kemenangan dari ideologi kapitalis. Parameter yang kedua adalah disintegrasi dan marginalisasi negara-negara Dunia Ketiga. Parameter yang ketiga adalah globalisasi ekonomi pada skala dan kedalaman seperti sekarang ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Hal yang paling penting yang mendukung terjadinya rezim global seperti saat ini adalah penyebaran paham neoliberalisme sebagai wacana hegemonik dan juga homogenisasi. Pengambilan keputusan rezim ekonomi sudah terlihat secara jelas, meliputi antara lain General Agreements on Tariffs and Trade (GATT), World Trade Organization (WTO), International Monetary Funds (IMF), World Bank, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) and G-7. Dan juga pendirian blok perdagangan utama : European Union, ASEAN, NAFTA, dan MERCOSUR.
Melalui semua perangkat ini, para elit ekonomi dunia mengelola kepentingan mereka dan menegosiasikan struktur regulasi untuk mengakomodasi kepentingan bersama (common interest) mereka dan memaksimalkan keuntungan.
Hal ini dapat menyebabkan polarisasi sosial di dalam dan di batas-batas nasional. Fenomena ini berkontribusi kepada munculnya negara-negara pusat (Core) dan pinggiran (Periphery)yang baru yang tidak didasarkan atas letak geografis, namun lebih kepada sisi ekonomi dan politik baik di negara-negara utara maupun negara-negara di selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar