Jumat, 09 Desember 2011

Post-Development / Tri Susanti Oktavia 105120401111014

Setelah terciptanya development, kemudian muncul suara-suara kritikan terhadapnya yang kemudian disebut dengan post-development. Beberapa sarjana dan aktivis telah melafalkan kerugian konsep dan praktis dari “pembangunan”. Terinspirasi dari pekerjaan Ivan Illich, tetapi juga oleh Foucoult, Gandhi, Polanyi dan lainnya, beberapa penulis berkolaborasi untuk membuat hal awal dari tiga hal utama yang biasanya sering terlihat sebagai perwakilan dari post-development. 17 penulis kecewa dengan kebijakan pembangunan, dan kata pengantar menyatakan bahwa ‘ 40 tahun terakhir dapat disebut saatnya pembangunan. Jangka waktu tersebut telah mendekati akhir. Dan waktunya telah datang untuk akhirnya’. Alasannya karena model perindustrian masyarakat sudah tidak bisa lagi dimengerti sebagai pemimpin skala evolusioner di masa ekologis yang sulit, bahwa projek dari pembangunan yang telah menandai instrument dalam perang dingin telah menjadi batu loncatan setelah 1989, bahwa era pembangunan telah tidak memimpin proses dari kebanyakan “dunia pembangunan” tapi malah membuat jarak antara negara kaya dan miskin, dan akhirnya “pembangunan” itu menjadi “kegiatan kesalahpahaman” . seringkali, kritik post-development mengarah kepada “invensi dari negara kurang berkembang” oleh presiden Amerika – Truman yang disebut sebagai “program keberanian baru” dan menyebut Afrika, Asia dan Amerika Latin sebagai area negara belum berkembang yang membutuhkan pembangunan.

Ide dari post-development telah didiskusikan secara luas dan sering kali mendapatkan kritikan dari banyak penulis berbasis ekonomi politik, neomarxist, postmarxist, sociological dan geografical, antropological dan aktor-oriented. Salah satu yang paling tajam kritikannya adalah Stuart Corbridge yang mengatakan bahwa di bawah modernitas, hanya ada tanah keras waktu pra-modern ditemukan,bukan pantai yang progresif seperti yang dibayangkan oleh post-development. Meskipun ia mengakui bahwa post-development telah berhasil menunjukan prasangka dan kegagalan tertentu. Kiely, beranggapan bahwa penulis post-development mendukung suatu keterbukaan baru dalam politik, namun posisi ini sangat terbuka dan jelas dapat dengan efektif menhilangkan jejaknya dalam politik itu sendiri. Meera Nanda, post-development datang untuk memobilisasi ideologi yang diajurkan tetapi malah memobilisasi ideologi yang relatif baik untuk dilakukan. Kritikan-kritikan ini semakin lama semakin meningkat, bagaimanapun suara-suara kritikan terhadap post-development telah mengantarkan kenyataan bahwa kedua hipotesis ini merupakan hal yang saling kritik-mengkritik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar