Stukturalisme dalam hubungan internasional merupakan perspektif yang memandang bahwa struktur selalu mempengaruhi agen, sedangkan post strukturalisme memandang bahwa agen dalam hubungan internasional mampu mempengaruhi struktur . Post strukturalisme tetap berpikir secara structural , tetapi direpresentasikan dengan interpretasi yang berbeda dengan menekankan lebih kepada budaya dari ekonomi. Jika strukturalisme menggunakan bahasa ekonomi untuk mengkritik kapitalisme (sistem kelas), postrukturalisme menggunakan bahasa kebudayaan untuk mengkritik modernitas (dipahami sebagai semiotic ), dan jika strukturalisme melihat potensial terhadap emansipasi manusia di pembangunan modern, post sturukturalisme melihat pembangunan adalah strategi dari kekuatan modern dan sebagai kontrol sosial.
Enlightenment atau “Masa Pencerahan” merupakan masa dimana dunia terbagi menjadi dua , dimana pusat dari segala peradaban, pengetahuan dan kearifan berada di Eropa Barat, dan kebodohan, hal-hal yang liar (barbaritas) dan hal-hal yang dianggap kurang baik terdapat di wilayah selain Eropa Barat. Post strukturalis dan Post modern merasa bahwa pemikiran filsuf modern terkait pembangunan modern adalah berbahaya karena indikator-indikator Enlightenment tentang pembangunan belum tentu bisa diterapkan di budaya yang berbeda.
Power-knowledge nexus merupakan hubungan antara kekuasaan dengan pengetahuan . individu ataupu instansi yang memiliki pengetahuan yang besar pasti memiliki kekuasaan yang besar pula. Post Colonialism mengkritik dampak kolonialisme terhadap suatu negara . Mereka (penganut Post Kolonialisme) menganggap indicator-indikator pembangunan saat ini terlalu mengarah kepada indicator-indikator yang dibuat oleh Western, sedangkan mereka mempunyai keyakinan bahwa hal itu tidak bisa diterapkan sepenuhnya kepada semua negara karena di setiap negara itu sendiri terdapat nilai-nilai kebudayaan tersendiri .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar