The Development of Underdevelopment
(Minggu ke-5)
(Minggu ke-5)
Dalam pembahasan mengenai negara-negara terbelakang muncul anggapan yang menyatakan bahwa negara-negara terbelakang yang ada di dunia ini sedang mengalami suatu fase pertumbuhan yang juga pernah dialami di masa awal sejarah negara-negara maju. Namun ternyata tidak demikian. Negara maju bisa jadi pernah mengalami masa tidak berkembang, tapi mereka tidak pernah terbelakang. André Gunder Frank dalam tulisannya "The Development of Underdevelopment" mengatakan bahwa suatu proses pembangunan merupakan proses dari pembangunan kapitalis dan keterbelakangan yang terjadi di negara-negara dunia ketiga dapat dijelaskan dengan mengetahui kondisi awal, karakter dan perkembangan kapitalisme.
Frank mengkategorikan negara-negara di dunia ini ke dalam dua kelompok, yakni negara metropolis untuk negara maju dan negara satelit untuk negara terbelakang yang mana di antara keduanya tersebut nantinya muncul suatu hubungan ketergantungan yang disebut sebagai Metropolis-satelite relationship. Dia berpendapat bahwa dalam metropolis-satelite relationship terjadi suatu hubungan eksplotatif yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara terbelakang. Hal ini tentunya menimbulkan suatu ketimpangan pertumbuhan, negara maju akan semakin maju sedangkan negara terbelakang tidak berkembang bahkan tetap berada di posisinya (terbelakang).
Selanjutnya, Frank membuat suatu pendekatan struktural dan historis yang dikembangkan menjadi sekumpulan hipotesa berkenaan dengan adanya pola hubungan antara negara metropolis dan negara satelit. Hipotesa pertama menyatakan bahwa hasil yang timbul dari hubungan antara negara maju dan terbelakang yaitu negara maju akan berkembang dengan pesat dan negara terbelakang akan tetap terbelakang. Yang kedua, industrialisasi dapat dikembangkan di negara-negara terbelakang atau saletit hanya ketika dalam proses tersebut tidak ada intervensi dan kaitannya oleh negara-negara maju, dengan kata lain mereka bisa mengembangkan industri otonom. Hipotesa terakhir menyatakan wilayah-wilayah yang kini terbelakang dan berada dalam situasi yang mirip dengan situasi pada sistem feodal adalah wilayah yang memiliki keterkaitan dengan wilayah metropolis dari sistem kapitalis internasional di masa lalu.
Sementara itu, dalam tulisan Samir Amin, disebutkan tiga teori yang dapat menjelaskan fenomena keterbelakangan (underdevelopment) yaitu teori akumulasi primitif, spesialisasi internasional dan ketidaksamaan level gaji antar negara. Teori akumulasi primitif sejatinya sama dengan milik Frank dan lebih spesifik menjelaskan bahwa pertukaran konstitusi yang tidak setara merupakan penyebab keterbelakangan yang mana menghasilkan perbedaan upah antara negara sentral dan periphery. Teori spesialisasi internasional sendiri merupakan hasil dari adanya kapitalisme yang menjadi sistem dunia dan mengakibatkan Revolusi Industri. Dan yang terakhir, ketidaksamaan level gaji antar negara terjadi karena alasan historis yang mengangkat basis spesialisasi dan sistem harga internasional yang menciptakan ketidaksamaan itu sendiri.
Frank mengkategorikan negara-negara di dunia ini ke dalam dua kelompok, yakni negara metropolis untuk negara maju dan negara satelit untuk negara terbelakang yang mana di antara keduanya tersebut nantinya muncul suatu hubungan ketergantungan yang disebut sebagai Metropolis-satelite relationship. Dia berpendapat bahwa dalam metropolis-satelite relationship terjadi suatu hubungan eksplotatif yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara terbelakang. Hal ini tentunya menimbulkan suatu ketimpangan pertumbuhan, negara maju akan semakin maju sedangkan negara terbelakang tidak berkembang bahkan tetap berada di posisinya (terbelakang).
Selanjutnya, Frank membuat suatu pendekatan struktural dan historis yang dikembangkan menjadi sekumpulan hipotesa berkenaan dengan adanya pola hubungan antara negara metropolis dan negara satelit. Hipotesa pertama menyatakan bahwa hasil yang timbul dari hubungan antara negara maju dan terbelakang yaitu negara maju akan berkembang dengan pesat dan negara terbelakang akan tetap terbelakang. Yang kedua, industrialisasi dapat dikembangkan di negara-negara terbelakang atau saletit hanya ketika dalam proses tersebut tidak ada intervensi dan kaitannya oleh negara-negara maju, dengan kata lain mereka bisa mengembangkan industri otonom. Hipotesa terakhir menyatakan wilayah-wilayah yang kini terbelakang dan berada dalam situasi yang mirip dengan situasi pada sistem feodal adalah wilayah yang memiliki keterkaitan dengan wilayah metropolis dari sistem kapitalis internasional di masa lalu.
Sementara itu, dalam tulisan Samir Amin, disebutkan tiga teori yang dapat menjelaskan fenomena keterbelakangan (underdevelopment) yaitu teori akumulasi primitif, spesialisasi internasional dan ketidaksamaan level gaji antar negara. Teori akumulasi primitif sejatinya sama dengan milik Frank dan lebih spesifik menjelaskan bahwa pertukaran konstitusi yang tidak setara merupakan penyebab keterbelakangan yang mana menghasilkan perbedaan upah antara negara sentral dan periphery. Teori spesialisasi internasional sendiri merupakan hasil dari adanya kapitalisme yang menjadi sistem dunia dan mengakibatkan Revolusi Industri. Dan yang terakhir, ketidaksamaan level gaji antar negara terjadi karena alasan historis yang mengangkat basis spesialisasi dan sistem harga internasional yang menciptakan ketidaksamaan itu sendiri.
Understanding Development
(Minggu ke-6)
(Minggu ke-6)
Teori post-development memandang bahwa tujuan pembangunan berkesinambungan dengan modenisasi yang identik dengan penyebaran nilai-nilai yang dipegang oleh negara Barat terhadap negara-negara berkembang. Atau dengan kata lain dapat diartikan bahwa pembangunan manusia bukan tujuan sesungguhnya dari pembangunan, melainkan kendali oleh manusia yang setara dan penghapusan dominasi itulah yang menjadi tujuan utama. Mereka menganggap bahwa dibalik peningkatan taraf hidup saat ini terdapat suatu proses hegemoni terhadap negara-negara berkembang oleh negara-negara maju tersebut. Selanjutnya teori ini juga menjelaskan bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan peningkatan taraf hidup, tetapi menekankan suatu peralihan dari ekonomi yang sebelumnya bersifat informal ke dalam jaringan sirkulasi komoditas. Hal ini dapat diilustrasikan melalui peralihan status kerja dan fungsi ekonomi ibu rumah tangga.
Akan tetapi dalam prakteknya, pembangunan selalu menghasilkan dilema filosofis yang berlanjut pada pilihan untuk mengorbankan sesuatu yang lain. Seperti contoh yang terjadi ketika industrialisasi ditingkatkan, maka hal ini berpotensi menimbulkan adanya urbanisasi besar-besaran yang mana juga berpengaruh terhadap lingkungan di kawasan tersebut.
Bukti dari kegagalan pembangunan dapat ditunjukkan lewat minimnya kemampuan negara untuk merekayasa model pembangunan tradisional. Ini ditandai dengan munculnya berbagai hal yang selanjutnya menjadi ciri-ciri pos-modernisasi seperti adanya bermacam-macam organisasi ekonomi dengan satuan-satuan produksi yang kecil dan memilki jaringan yang luas, berkembangnya transformasi teknologi informasi serta adanya kejahatan transnasional.
Akan tetapi dalam prakteknya, pembangunan selalu menghasilkan dilema filosofis yang berlanjut pada pilihan untuk mengorbankan sesuatu yang lain. Seperti contoh yang terjadi ketika industrialisasi ditingkatkan, maka hal ini berpotensi menimbulkan adanya urbanisasi besar-besaran yang mana juga berpengaruh terhadap lingkungan di kawasan tersebut.
Bukti dari kegagalan pembangunan dapat ditunjukkan lewat minimnya kemampuan negara untuk merekayasa model pembangunan tradisional. Ini ditandai dengan munculnya berbagai hal yang selanjutnya menjadi ciri-ciri pos-modernisasi seperti adanya bermacam-macam organisasi ekonomi dengan satuan-satuan produksi yang kecil dan memilki jaringan yang luas, berkembangnya transformasi teknologi informasi serta adanya kejahatan transnasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar