Jumat, 25 November 2011

Fidari Fitrianingtyas / 105120400111014

Review minggu ke-7

Antara pertengahan tahun 1960 hingga awal tahun 1980 teori pembangunan didominasi oleh pemikiran dari Marxist dan Neo-Marxist.Teori structuralis merupakan dasar dari politik dan pergerakan sosial yang menjadi acuan transformasi masyarakat dalam pembangunan,dengan kata lain pembangunan adalah menata ulang masyarakat. Teori kritis ini kemudian memunculkan variasi lainnya yaitu teori post-structuralis.Beberapa orang menganggap bahwa teori post-strukturalis hanyalah lanjutan dari teori strukturalis.Namun ada juga yang menyanggah bahwa teori post-strukturalis dan strukturalis memiliki perbedaan.Strukturalis mengkritisi kapitalisme melalui ekonomi sedangkan post-strukturalis mengkritisi modernitas melalui kebudayaan.Selain itu strukturalis juga menempatkan potensi peran emansipasi manusia pada pembangunan modern sedangkan post-strukturalis memandang pembanguna sebagai suatu strategi dari adanya power dan social control.

Post-kolonialisme biasa disebut sebagai awal kerja yang lebih teroganisir dari “subaltern studies group” pada awal tahun 1980,istilah subaltern disini merujuk pada subordinasi kelas,kasta,gender,ras dan budaya (Guha dan Shivak 1988).Guha berargumen bahwa masyarakat subaltern bertindak atas kemauannya sendiri,dengan politik otonom,dalam bentuk sosial dan komunitas yang berbeda dari setiap suku bangsa atau kelas,dengan alasan untuk menentang model konvensional dari rasionalitas bangsa barat.Istilah post-kolonial sendiri telah mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kerugian negara-negara dunia ketiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar