Jumat, 09 Desember 2011

Dwita Kurnia Mahardhika - 105120401111028


Post-Development Discourse and Its Critics
Pemahaman Post-development muncul sebagai akibat adanya ketidakpuasan terhadap pemahaman “development” yang sudah diterapkan secara luas selama 40 tahun. Ketidakpuasan ini muncul dikarenakan masyarakat yang kontra development menganggap bahwa pelaksanaan development bukanlah untuk memajukan negara-negara yang masih tertinggal (atau biasa di sebut negara dunia ketiga), tetapi malah meningkatkan gap antara negara-negara yang kaya dengan negara-negara yang miskin. Dan pada akhirnya konsep development ini mempunyai tujuan untuk menghilangkan perbedaan kebudayaan-kebudayaan yang ada dan menggantikannya dengan budaya-budaya yang dimiliki oleh negara-negara maju.
Para pemuka post-development mengutamakan apa yang disebut dengan “alternative of development” sebagai sarana untuk menggantikan konsep development yang sudah ada. Reaksi dari para pemuka post-development terhadap kegagalan konsep development yang sudah ada adalah adalah dengan membentuk suatu struktur sosial yang yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan yang ada dalam sisi ekonomi, politik, maupun dalam sisi pengetahuan (knowledge).
Konsep mengenai post-development bukannya tidak lepas dari kritikan-kritikan. Salah satu pengkritik yang paling tajam terhadap post-development adalah Stuart Corbridge. Corbridge mengkritik post-development karena melalaikan aspek positif dari modernitas, science, dan teknologi.  Namun, terdapat dua fakta yang diungkapkan oleh post-development yang ditutup-tutupi oleh pro-development dan tidak bisa dibantah bahkan oleh golongan pro-development sekalipun, dua fakta tersebut adalah :
1.       Konsep tradisional dari pembangunan adalah Eropa sentris
Yaitu konsep pelabelan yang menyatakan bahwa Eropa Barat dan Amerika Utara adalah kawasan yang “developed”, sedangkan Afrika, Asia dan Amerika Latin meruapkan negara yang “underdeveloped”, sehingga norma-norma dalam pembangunan diharuskan mengikuti norma-norma yang dianut oleh negara-negara eropa yang dianggap lebih maju daripada yang lain.

2.       Konsep tradisional dari pembangunan adalah mengenai otoriter dan implikasi dari para teknokrat.
Hal ini sudah jelas, untuk mendapatkan apa yang disebut dengan “development” haruslah dikaitkan dengan apa yang dinamakan power dan sangat tergantung pada pihak-pihak yang menguasai bidang teknologi.
Dalam hal ini, konsep Post-development dilihat sebagai sebuah pemikiran baru yang mencakup hubungan negara-negara Utara-Selatan, yang memiliki potensi baik kritis maupun konstruktif, namun masih perlu diperdebatkan, dieksplorasi dan disempurnakan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar