Jumat, 09 Desember 2011

Masyita Adha 105120400111004


POST DEVELOPMENT

Berawal di era tahun 1980-an ketika aktivis dan kaum pelajar dengan sangat gambling menjelaskan mengenai kekecewaan terhadap konsep dan pelaksanaan dari “development” yang secara eksplisit terdapat pemberhentian dari lebih baik secara bersama. Model lingkungan industry tidak lama lagi bisa dipahami sebagai selangkah lebih maju dalam skala evolusioner  dengan sorotan keadaan lingkungan yang sedang dalam keadaan sulit, dimana proyek pembangunan yang dijadikan instrument di perang dingin terikat untuk menguras diri sendiri lewat dari 1989. Bahwa era pembangunan tidak lagi dipimpin untuk memproses bagaimana mengejar untuk menggapai “dunia yang paling berkembang” tetapi malahan memperluas jurang antara negara kaya dan miskin. Akhirnya bahwa “pembangunan” dulunya merupakan “bisnis yang mengalami salah paham” dalam tujuan implicit tersebut adalah pengeliminasian keragaman budaya melalui penguniversalkan institusi negara barat. (Rahnema:384,397), pembangunan pada dasarnya merupakan bukan jawaban yang tepat atas kebutuhan dan aspirasi mereka. Konsep dari pembangunan lahir dan dibentuk di wilayah utara, merupakan suatu kekuatan dominan yang berfungsi sebagai alat yang cocok un tuk ekspansi ekonomi dan geografi mereka dan juga membantu kolonialisme untuk bertransformasi dirinya menjadi agresif. Corbridge mempertanyakan penemu post-development karena mengabaikan dampak positif dari modernitas,pembangunan, ilmu pengetahuan, teknologi dan pergantian keragaman. Post development telah hadir untuk melayani sebagai pergerakan ideologi dan yang paling berada paling jauh dari jangkauan adalah manfaat dari pembangunan kepada masyarakat desa yang relatif terlaksana dengan baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar