Sabtu, 31 Desember 2011

novia primaditya, 105120400111036

Week 11, feminist theories of development

Feminis merupakan sebuah gerakan yang muncul denga dilatarbelakangi oleh beberapa teori sosial, gerakan politik dan juga filosofi. Kebanyakan gerakan ini mengkritik tentang hubungan-hubungan sosial yang terjadi, terutama yang berkaitan dengan gender. Feminisme ini melihat perbedaan di dalam politik, kekuasaan dan juga lainnya yang diakibatkan oleh perbedaan gender dan juga seksual. Aktifis feminis dan juga gerakan feminisme di dalam politik telah dimulai sebagai gerakan yang terorganisir pada pertengahan abad ke 19. Gelombang pertama ini memfokuskan dirinya pada tuntutan atas persamaan hak kepemilikan oleh wanita dan juga harta yang dimiliki selama pernikahan (termasuk anak). Kemudian pada akhir abad ke 19, gerakan feminis mayoritas lebih fokus kepada tuntutan untuk adanya partisipasi politik bagi wanita dan juga adanya hak untuk voting bagi wanita. Dan pada tahun 1918-1928, gerakan-gerakan feminis dan juga keadilan bagi wanita telah tampak berkembang pada Inggris dan juga Amerika. Selanjutnya gelombang kedua aktifis dan juga teori feminisme muncul pada awal tahun 1960 sampai dengan akhir 1980, dimana feminis mengkritik sistem kapitalisme, dan menganggap bahwa sistem kapitalisme tersebut merupakan sebuah sistem yang mendiskriminasi wanita dan juga tidak adil bagi wanita. Gelombang ketiga yang muncul pada tahun 1990an agak dipengaruhi oleh pemikiran post-strukturalis dan juga post-modernis.

Penerimaan posisi wanita di dalam pembangunan tampaknya belum begitu mendapat tanggapan yang positif. Pembangunan sendiri masih cenderung identik dengan maskulinitas. Padahal jika dilihat, mayoritas buruh merupakan wanita. Selanjutnya muncul beberapa hubungan antara feminisme dan juga pembangunan, diantaranya adalah; 1. Women In Development (WID), merupakan teori modernisasi liberal, dan juga memiliki tujuan untuk menstruktur ulang program pembangunan. 2. Women And Development (WAD), merupakan aliran dari sosialis feminis, memiliki tujuan untuk memcari alternatif dari pembangunan. 3. Gender And Development (GAD), merupakan aliran feminis radikal, memiliki fokus pada emansipasi wanita. 4. Women, Environment, and Deevelopment (WED), merupakan feminis politik ekologi, yang berfokus kepada pembangunan yang berkelanjutan. 5. Postmodernism and Development (PAD), merupakan aliran feminis postmodern dan juga postdevelopment

Week 12, Suistainable Development


Suistainable Development (SD) atau pembangunan yang berkelanjutan merupakan salah satu konsep pembangunan yang pengertiannya sendiri masi menimbulkan banyak kotradiksi. Ada yng menganggap bahwa suistainable development hanyalah konsep pembangunan lainnya yang disangkal. Dari artinya secara harfiah sendiri, suistainable development merupakan pembangunan secara terus-menerus ataupun pembangunan yang bisa terus dilanjutkan. Karena banyaknya kontradiksi dalam konseptualisasi Suistainable development, maka terdapat banyak institusi yang bermunculan dan berusaha mengaktualisasikan konsep dari suistainable development itu sendiri.

Yang pertama adalah the United Nations Environment Program (UNEP). UNEP menyatakan bahwa konsep dari suistainable development antara lain adalah; 1. Membantu rakyat miskin, mereka hidup tanpa pilihan lain selain menghancurkan lingkungan hidup mereka. 2. Membangun kemandirian pada masyarakat dengan adanya kendala dari segi sumber daya alam. 3. Pengefektifn biaya dengan tidak menggunakan cara-cara ekonomi yang tradisional. 4. Isu-isu besar seperti permasalahan kesehatan, air bersih, teknologi dan lain-lain. 5. Memusatkan gagasan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan. Selanjutnya, berbeda denga UNEP, World Commision on Environment and Development (WCED) mengaktualisasikan Suistainable Development sebagai; 1. Menghidupkan kembali pertumbuhan. 2. Mengubah kualitas dari pertumbuhan itu sendiri. 3. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan utama seperti perkerjaan, makanan, energi, air dan sanitasi, 4. Memastikan bahwa tingkat pertumbuhan terus berkelanjutan. 5. Mengkonservasi sumberdaya lebih lanjut. 6. Reorientasi energi dan lebih mengelola resiko. 7. Melibatkan faktor ekonomi dan juga lingkungan dalam pembuatan keputusan. 8. Reorientasi hubungan internasional. 9. Menciptakan pembangunan yang lebih partisipan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar