Jumat, 25 November 2011

Gusti Rafangga R 1205120400111016 Minggu 7 0

Review Minggu ke 7 Pada pertengahan tahun 1960 dan 1980an
critical thinking tentang pembangunan didomnasi oleh teori Marxis dan Neo-Marxis, dimana teri ini menjelaskan mengenai dominasi dari model produksi, sirtem kapitalis atau global market. Pada tahun 1970 sampai 1980 structural explanation (membahas mengenai development adalah cara untuk merestrukturisasi masyarakat) mendapat kritikan penuh dari para pemikir kritis. Para pengkritisi structural explanation inilah yang disebut post structuralism. Post strukturalism memberikan pemikiran bahwa individu mempunyai peranan penting dalam pembangunan, poststrukturalism melihat pembanguan sebagai strategi dari modern power dan social control. ENLIGHTENMENT AND ITS CRITICS Enlightenmen menganggap bahwa semua orang “indefinetely perfectible” semua orang itu mampu untuk menjadi pembimbing. Sehingga semua pemikiran orang-orang bisa menjadi suatu peraturan di dunia ini. Pemikiran ini dikritik oleh post-structuralism yang mengatakan bahwa pemikiran ini terlalu membanggakn bangsa eropa dan menyebarkan hal tersebut ke dunia. Selain itu enlightenment juga mendapat kritikan dari Marxis, marxis sebenarnya merupakan bentuk euthopia dari itu enlightenment karena marxis mendukung bahwa pemikiran manusia bisa mengungguli agama atau myticism tetapi marxis juga melakukan kritik yang menyatakan rasionalitas semakin mengakibatkan adanya dominasi dari kelas atas. POWER TRUTH KNOWLEDGE Foucault disini adalah tokoh yang menentang pemikiran modern, memberikan dua prinsip yang pada intinya dua prinsip tersebut univerasal humanity lebih mengarah pada hegemoni atau enlightenment yang berasal dari eropa yang menginginkan agar kultur dan identitas bangsa eropa akan menjadi suatu identitas pada masyarakat modern. POST COLONIALISM Post colonialism menekankan pada aspek sejarah pada masa lampua bagi negara-negara terjaajah. Post colonialism juga sering dikaitkan dengan istilah subaltern dimana ada pemisahan antar kelas, suku, gender dan budaya. Sehingga pemikiran utama pada post colonialism disini adalah rekonstruksi pemikiran atau identitas yang didasarkan pada standar eropa sebagai hasil dari kolonialisme masa lampau. Selengkapnya...

Aghata Nindya Hasan (105120400111054) 0

week 7 (Post-Colonialism )

Pemikiran dari Edward Said "Orientalism" (1979) adalah momen penting dalam penerapan ide-ide poststructural dengan hubungan antara Dunia Pertama dan ketiga . Dan dari pertengahan 1980-an dan seterusnya.

ide poststructural mulai muncul dalam studi perkembangan kritis dan berpikir postdevelopmental. Beberapa pemikir ternyata poststructural sebenarnya terus berpikir struktural, tetapi dalam cara-cara baru. Banyak pemikir poststructural lain menyerang pemahaman struktural sama sekali bukan hanya menggeser penekanan, melihat peristiwa seperti yang terjadi di dunia yang jauh lebih anarkis dari pendapat strukturalisme.
Sedangkan strukturalisme melihat makna transenden sistem pinjaman kepada individu, banyak poststructualist ingin kembali signifikansi ke tunggal yaitu, sesuatu yang tidak penting. Sedangkan strukturalisme, dalam bentuk kritis, biasanya mempekerjakan bahasa ekonomi untuk mengkritik kapitalisme, poststrukturalisme menggunakan bahasa budaya untuk mengkritik modernitas, poststrukturalisme melihat pembangunan sebagai strategi pembangunan modern dan kontrol sosial.


Sesungguhnya, sebagai wacana postcolonial telah muncul pada era penjajahan. Namun teori poskolonial mewujud untuk memberikan kritik lama setelah itu. Perspektif postkolonial memberikan kesadaran akan pentingnya identitas kebangsaan, pentingnya nilai-nilai kemerdekaan dan juga humanisme. Jadi, teori ini lahir untuk membongkar relasi kuasa yang membungkus struktur yang didominasi dan dihegemoni oleh kolonial.

Inti kritik dari postkolonial (terhadap kolonialisme) sesungguhnya bukan dalam bentuk penjajahan secara fisik yang telah melahirkan berbagai kesengsaraan dan penghinaan hakekat kemanusiaan, melainkan pada bangunan wacana dan pengetahuan termasuk bahkan bahasa. Postkolonial juga mengritik pendekatan dikotomi yang merupakan simplifikasi yang menyesatkan.

Terpusat pada eurosentris karena hampir semua Negara penjajah merupakan berasal dari Negara-negara eropa.. adanya studi subaltern pada awal tahun 1980an yang dapat diartikan bawahan dalam hal ini yang berkaitan dengan kelas social,kasta,jenis kelamin dan ras serta budaya.dalam hal ini biasanya seorang petani dan kaum jelata. Kebanyakan paham ini pendukungnya berasal dari Negara yang pernah terjajah.


Selengkapnya...

Sam Horry Bio (105120403111004) 0

Post strukturalisme,post-colonialism, and post-developmentalism (bacaan utama hal.197-212)

Post-strukturalisme ini adalah pemikiran strukturalisme yang lebih baru. Dibandingkan dengan strukturalisme, post-strukturalisme lebih menekankan pemikiran yang strukturnya lebih melihat hal yang bersifat kelembagaan,budaya,dan simbolitas. Contohnya adalah pada pemikiran Baudrillad tentang kehidupan sosial manusia yang lebih banyak membicarakan hal-hal yang sifatnya symbol dan budaya. Post-strukturalisme juga menekankan sisi modernitas yang tercakup dalam teori post-modernisme di dalam kehidupan masyarakat.

Post-colonialisme :

Post kolonialisme awal mulanya lahir dari pemikiran Fanon tentang kolonialisme dalam bukunya yang berjudul The Wretched of the Earth (1968). Yang memaksa kepada para pembaca di eropa untuk memikirkan kembali tentang bagaimana sejarah colonial mereka. Setelah itu muncul lagi pemikiran dari berbagai tokoh seperti dari Spivak,orientalisme dari palestina, dan bhaba yang notabene mereka lebih menganggap studi ini lebih mengkaji sejarah dari dunia barat.

Selengkapnya...

rio andriawan 105120401111018 0

WEEK 6

Salah satu dari teori pembangunan adalah teori post-development. Teori post-development mengatakan bahwa tujuan dari pembangunan berkaitan erat dengan modernisasi, yang memerlukan perluasan kontrol dari dunia barat dan sekutunya di negara-negara berkembang. Dengan kata lain tujuan dari pembangunan bukanlah human development melainkan kendali oleh manusia dan penghapusan dominasi. Teori ini juga membuat beberapa klaim yang menarik, bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan peningkatan taraf hidup melainkan peralihan dari ekonomi yang sebelumnya bersifat informal ke dalam jaringan sirkulasi komoditas. Dalam teori ini negara dianggap semena-mena. Yaitu akan melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Post-development sendiri tidak menciptakan sebuah teori pembangunan, mereka hanya mengkritisi teori pembangunan sekarang. Post development meyakini adanya suatu new beginning dari pembangunan karena pembangunan pada dasarnya tidak pernah berakhir hanya berubah sesuai interpretasi masing-masing.

Selengkapnya...

DWI FEBRI O - 0911240048 0


Week 7: Post-Colonialism

Edward Said dengan bukunya Orientalism (1979) mencoba menawarkan ide post-strukturalis, yaitu Dunia Pertama dan Dunia Ketiga. Teori-teori Marxis dan Neo-Marxis mendominasi kritik terhadap pembangunan antara tahun 1960an hingga awal 1980an hanya memfokuskan kritiknya pada kapitalisme dunia. Perspektif Post-Kolonialisme membahas eksistensi Barat terhadap negara-negara terjajah (Timur). Dalam sebuah kolonialisasi terjadi dua hal, yang pertama adalah bahwa si penjajah diuntungkan dalam banyak bidang dan yang kedua adalah bahwa yang terjajah akan mendapat beberapa keuntungan pula dengan masuknya kolonialisasi, sebab penjajah secara tidak langsung akan membawa nilai-nilai baru yang positif, diantaranya adalah teknologi. Jadi kolonialisasi tidak sepenuhnya bersifat negatif. Namun, kolonialisme era modern yang terjadi saat ini (imperialisme), malah sifatnya lebih rumit. Mengapa? Sebab negara-negara terjajah hingga sekarangpun masih saja terjajah oleh nilai-nilai yang ditinggalkan oleh si penjajah. Secara tidak sadar, negara terjajah menganggap nilai-nilai yang ditinggalkan oleh si penjajah adalah hal yang benar dan selama itu pula negara terjajah akan terus dijajah.
Edward Said dengan Orientalisme-nya merujuk pada sangkaan Erosentris (warisan penjajahan Eropa, seperti Prancis, Inggris, Belanda) terus-menerus atas orang-orang arab dan kebuyaan arab (Orient / East). Said menyimpulkan bahwa penulis Barat menghadirkan Timur sebagai irasional, lemah, feminis, sebaliknya, Barat  memiliki sifat rasional, kuat, dan Maskulin. Melalui Orientalisme-nya, Edward Said sebagai penulis dari Timur ingin mengkritik Barat yang selama ini menjadikan Timur sebagai objek kajian. Pandangan tentang orang Timur masih dari perspektif, angan-angan, dan khayalan Barat. Ironisnya lagi, hal itu menjadi standar akademis di Timur.
Selengkapnya...

rio andriawan 105120401111018 0

WEEK 7

Kritik terhadap postkolonial dalam kapitalisme global”

Antara pertengahan 1960-an dan awal 1980-an, pemikiran kritis tentang perkembangan didominasi oleh teori-teori Marxis dan neo-Marxis. Hal ini berpikir kritis mengambil bentuk sistemik dan struktural. Teori-teori yang sangat umum mencoba posisi pada setiap peristiwa sejarah dan setiap tempat karakteristik sosial sebagai komponen dari beberapa sistem menyeluruh yang lebih umum, baik itu cara produksi, sistem kapitalis dunia, atau pasar global. Menjelaskan sesuatu yang berarti memasukkannya ke dalam konteks yang lebih umum yaitu sistem atau struktur. Tujuannya adalah tidak kurang dari teori sistematis totalitas sosial, bagian mereka, dan dinamika perkembangan mereka, dengan tidak dijelaskan atau dikaitkan dari kebenaran kiri, Pada 1970-1980 Elemen ini berteori penting mulai mengambil berbagai bentuk"poststructural".

Pemikiran dari Edward Said "Orientalism" (1979) adalah momen penting dalam penerapan ide-ide poststructural dengan hubungan antara Dunia Pertama dan ketiga . Dan dari pertengahan 1980-an dan seterusnya-, ide poststructural mulai muncul dalam studi perkembangan kritis dan berpikir postdevelopmental. Beberapa pemikir ternyata poststructural sebenarnya terus berpikir struktural, tetapi dalam cara-cara baru. Banyak pemikir poststructural lain menyerang pemahaman struktural sama sekali bukan hanya menggeser penekanan, melihat peristiwa seperti yang terjadi di dunia yang jauh lebih anarkis dari pendapat strukturalisme. Sedangkan strukturalisme melihat makna transenden sistem pinjaman kepada individu, banyak poststructualist ingin kembali signifikansi ke tunggal yaitu, sesuatu yang tidak penting. Sedangkan strukturalisme, dalam bentuk kritis, biasanya mempekerjakan bahasa ekonomi untuk mengkritik kapitalisme, poststrukturalisme menggunakan bahasa budaya untuk mengkritik modernitas, poststrukturalisme melihat pembangunan sebagai strategi pembangunan modern dan kontrol sosial,

Dunia Postkolonialisme”

Dalam kata-kata sejarahwan Princeton Gyan Prakash (1994:1475) ide kritik postkolonial adalah untuk memaksa "radikal pemikiran ulang tentang identitas dan pengetahuan sosial ditulis dan disahkan oleh dominasi kolonialisme dan barat. Kritik postkolonialisme, dengan perbandingan, berusaha untuk membatalkan perampasan Eropa dari "yang lain" dalam kesadaran bahwa aparat sendiri ada kritis pasca kolonialisme. Setelah Derrida, dapat dikatakan bahwa Kritik postkolonial mendiami diri yang sama struktur dominasi barat yang berusaha untuk membatalkan. Lebih secara kompleks, literatur postkolonial dihasilkan dari suatu pertukaran antara budaya kekaisaran dan kompleks dari praktek-praktek budaya adat, gagasan imperialisme yang, sebagian, menolak, terkikis, dan bahkan digantikan dalam proses interaksi budaya hibrida (Ashcroft, Griffiths, dan Tiffin 1995).

Istilah "postkolonialisme" mengisi celah yang ditinggalkan oleh ditinggalkannya "dunia ketiga" frase dalam (poststructural) lingkaran-progresif "bangsa dari tiga dunia ... ... merata heterogeneities, kontradiksi masker, dan perbedaan elides." (Shohat 1992: 101 ). Sejarah, sastra postkolonial kerja, dan psikoanalisis adalah bersatu di sekitar pemeriksaan dampak wacana kolonial pada subjektivitas, pengetahuan kekuasaan, dan. Tulisan postkolonial menekankan mutualitas dari proses kolonial. Daripada melenyapkan kolonialisme, atau membungkam, mereka terjajah aspek khas dari budaya kaum tertindas selamat "dekolonisasi imajinasi" melibatkan tindakan eksorsisme untuk kedua penjajah dan terjajah, sedangkan pandangan dunia yang muncul dilemparkan kurang dalam hal imperialisme budaya daripada sebagai campuran global (Pieterse dan Parekha).

Faoucault menganggap jika suatu discourses dapat diambil kebenarannya karena episteme (pengetahuan yang sesungguhnya) dipercaya mempunyai kapasitas untuk memisahkan kebenaran dari fiksi. Dalam geneologi, Foucault memeriksa sekali lagi aspek ganda, relasi, dan jenis dominasi. Menurutnya, isu bukan hanya dominasi global¾suatu kumpulan masyarakat yang mengontrol lainnya, terutama periphery. Tapi bentuk ganda dari dominasi muncul menjadi banyak bentuk yang berbeda: power dalam regionalnya dan bentuk lokal dan institusi; power di level lain yang sadar tujuan; power sebagai sesuatu yang bersirkulasi layaknya rantai dan jaringan; power dimulai dari bentuk hubungan personal sangat kecil dan kemudian menjajah lebih banyak mekanisme umum ke dalam bentuk global dominasi; power yang mencoba formasi dan akumulasi dari akreditasi pengetahuan dan begitu selanjutnya. Post-Colonialism

Edward Said dengan bukunya Orientalism (1979) mencoba menawarkan ide post-strukturalis, yaitu Dunia Pertama dan Dunia Ketiga. Teori-teori Marxis dan Neo-Marxis mendominasi kritik terhadap pembangunan antara tahun 1960an hingga awal 1980an hanya memfokuskan kritiknya pada kapitalisme dunia. Perspektif Post-Kolonialisme membahas eksistensi Barat terhadap negara-negara terjajah (Timur). Dalam sebuah kolonialisasi terjadi dua hal, yang pertama adalah bahwa si penjajah diuntungkan dalam banyak bidang dan yang kedua adalah bahwa yang terjajah akan mendapat beberapa keuntungan pula dengan masuknya kolonialisasi, sebab penjajah secara tidak langsung akan membawa nilai-nilai baru yang positif, diantaranya adalah teknologi.


Selengkapnya...

Briansyah S.P / 105120400111044 0

Briansyah S.P.

105120400111044

Review Minggu Ke 7

Teori Postkolonial terkait dengan konsep utamanya yaitu persoalan relasi yang berbentuk “dominasi-subordinasi”. Relasi ini terjadi mulai dari level makro sampai mikro, mulai dari antar negara sampai dengan antar level masyarakat.

Karakter teori dan perspektif Postkolonial bahwa Teori Poskolonial yang lahir pada paruh kedua abad ke-20 sering disebut sebagai metode dekonstruktif terhadap model berpikir dualis (biner), meskipun mereka yang mengaku sebagai ahli dengan perspektif postkolonial tidak benar-benar mampu lepas dari jerat ini. Model berpikir dualis yang mengendap dalam ilmu pengetahuan Barat, terutama dalam kajian masalah Timur (orientalism), senantiasa menempatkan kedudukan Barat, penjajah, self, pengamat, dan subyek memiliki posisi yang unggul dibandingkan dengan Timur. Timur adalah terjajah, orang luar, obyek, yang diceritakan, dan seterusnya. Orang Barat modern merasa mereka berbeda dengan orang Timur yang dipandang irasional, emosional, dan kurang beradab (misalnya dalam politik disebut dengan “despotis Timur”).

Teori postkolonial merupakan teori kritis sebagai salah satu bentuk dari kelompok teori-teori postmodern. Postkolonial menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai “dunia ketiga” tidaklah seragam. Ada heterogenitas baik karena wilayah, manusianya, dan kulturnya. Ia juga menunjukkan bahwa ada resistensi tertentu dari Timur kepada Barat. Salah satu bentuk yang sangat terkenal adalah apa yang disebut “subaltern” oleh Spivak. Intinya, post kolonial menyediakan kerangka untuk mendestabilisasi bahwa ada asumsi tersembunyi (inherent assumptions) yang melekat dalam pemikiran Barat yang selama ini selalu mengklaim diri sebagai kebenaran tertinggi dan juga universal. Teori postkolonial dikembangkan secara grounded dengan mengangkat berbagai bukti riel hasil kolonialisme, baik secara fisik, politis maupun kultur.

Tujuan pengembangan teori postkolonial adalah melawan sisa-sisa dampak dari terjadinya kolonialisme dalam pengetahuan termasuk pada sisi kultur. Postkolonial berorientasi pada terwujudnya tata hubungan dunia yang baru di masa depan. Postkolonial merupakan teori yang berasumsikan dan sekaligus mengeksplor perbedaan fundamental antara negara penjajah dan negara terjajah dalam menyikapi arah perkembangan kebudayaannya. Teori ini diterapkan untuk mengkaji karakter budaya yang lahir terutama pada negara-negara dunia ketiga atau negara bekas jajahan pada dekade setelah penjajahan berakhir.

Postkolonial dapat pula dipandang sebagai ancangan teoritis untuk mendekonstruksi pandangan kaum kolonialis Barat (disebut dengan kaum orientalis) yang merendahkan Timur atau masyarakat jajahannya. Secara tegas bahwa teori-teori yang dihasilkan Barat tidaklah netral dan obyektif. Teori tersebut sengaja didesain sebagai sebuah rekayasa sosial-budaya demi kepentingan dan kekuasaan mereka. Kalangan ilmuwan zaman penjajahan bersikap kurang kritis, dan banyak yang mengandalkan pada catatan-catatan tentara dan staf yang tidak memiliki metodologi yang netral.

Orientalis cenderung merendahlan cara berpikir Timur yang dianggap tidak selaras dan sederajat dengan mereka. Epsitemologi orientalis memposisikan dirinya sebagai subyek (self), sementara yang lain adalah obyek (the other). Sampai dengan akhir abad ke-20 pun, saat penjajahan telah lama berakhir, alih-alih menyesal dengan perbuatannya, pemikir kolonial masih tetap merendahkan timur. Untunglah lahir pemikir postkolonial untuk menunjukkan borok-borok itu semua.

Sesungguhnya, sebagai wacana postcolonial telah muncul pada era penjajahan. Namun teori poskolonial mewujud untuk memberikan kritik lama setelah itu. Perspektif postkolonial memberikan kesadaran akan pentingnya identitas kebangsaan, pentingnya nilai-nilai kemerdekaan dan juga humanisme. Jadi, teori ini lahir untuk membongkar relasi kuasa yang membungkus struktur yang didominasi dan dihegemoni oleh kolonial.

Inti kritik dari postkolonial (terhadap kolonialisme) sesungguhnya bukan dalam bentuk penjajahan secara fisik yang telah melahirkan berbagai kesengsaraan dan penghinaan hakekat kemanusiaan, melainkan pada bangunan wacana dan pengetahuan termasuk bahkan bahasa. Postkolonial juga mengritik pendekatan dikotomi yang merupakan simplifikasi yang menyesatkan.


Kultur masyarakat terjajah menurut Postkolonial
Hasil dari berkerjanya kolonialisme selama lebih dari tiga abad sangat banyak dan beragam. Melalui perspektif postkolonial lah semua dampak buruk tersebut bisa terungkap. Dampak tersebut tidak hanya berbagai penderitaan fisik dan batin sepanjang berlangsungnya penjajahan, namun sampai dengan saat ini setelah lebih dari setengah abad penjajahan berakhir. Dampak-dampak tersebut hanya kelihatan setelah meggunakan kacamata teori postkolonial. Salah satu ”temuan” teori postkolonial adalah misalnya fenomena ”hibriditas” yang berlangsung semenjak era kolonial sampai dengan sekarang.

Selengkapnya...

Azmi Multazami / 105120400111032 0

Review Minggu ke 7


Di pertengahan tahun 1960 dan awal 1980, pemikiran kritis tentang pembangunan didominasi oleh teori marxis dan neo marxis. Teori ini lebih dijelaskan dalam posisi sejarah seperti sistem kapitalis dunia atau pasar global. Teori struktual selalu disambut dengan kecurigaan, bahkan antagonisme dari hak hak politik. Meskipun penjelasan struktural dan bahkan transformasi sosial menjadi penuh kecurigaan oleh para pemikir kritis pada tahun 1970an dan awal 1980. Elemen dari kritikal teori ini menjadi sebuah post struktural. Kemudian dengan munculnya sebiah buku yang berjudul Orientalisme menjadi moemn yang sangat berpengaruh dalam pengaplikasian post struktural dalam hubungan antara negara dunia pertama dan ketiga.

Kemudian pada masa pencerahan terdapat pembagian negara antara negara eropa yang menjadi pusat alasan, pengetahuan dan kebijaksanaan dan negara peripheri merupakan negara yang tidak tahu apa apa, barbar. Dan eropa ditakdirakn untuk memimpin dunia. Pemikiran pada masa pencerahan hampir sama dengan pemikiran modernisme karena masa pencerahan merupakan basis filosofi dari teori modernisme.

Filososfi post struktural dan post modernisme mencoba untuk mengungkap kecacatan yang melekat pada keseluruhan modernisme. Post struktural berfikir, khususnya dalam bentuk post modern, menegaskan sisi lain dari rasionalitas meodernisme yaitu tentang para kuli, perempuan dan korban kolonialisasi, institusi modern, serta dibawah tekanan yang menyebabkan hilangnya emosi serta kesenangan.

Foucoult berbagi dengan Nietzsche tentang pesona dari power-truth-knowledge yang kompleks dan dengan husserl dan heidegger yang mengkritisi secara mendalam tentang rasionalisme, kepercayaan dan semua proyek dari modernisme.

Post kolonialisme adalah sifat skeptis yang ekstrim tentang proyek barat mengenai alasan, kepercayaan dan kemajuan. Pemikiran ini dirumuskan secara umum di paris yang merupakan puast dari dunia pada masa pencerahan.

Selengkapnya...

Miftahul Sa'addah 105120401111020 0

Theories of Development

Pemikiran kritis ini muncul sekitar pertengahan tahun 1960-1980 dimana didominasi oleh teori marxis dan neo marxis

Poststrukturalis melihat bahwa pemikiran manusia yang rasional dijadikan sebagai sebuah standar untuk berperilaku dan berbuat dan hal tersebut membawa pikiran bahwa apa yang terjadi dengan pembangunan dan peradaban yang tinggi dibawa oleh Eropa karena alasannya Eropa adalah yang mampu untuk berpikir secara rasional

Sedangkan Poskolonialism lebih menekankan kepada kritik terhadap “superior” Eropa. Eropa yang menyengsarakan negra-negara Timur. Poskolonialis mengritik bahwa ilmu pengetahuan dan identitas sosial yang tinggi tersebut diakui oleh Western sebagai identitas dirinya sehingga ia merasa dirinya superior dan berhak untuk mejajah Timur

Selengkapnya...