Jumat, 25 November 2011

Prasetyani A.P/105120403111002 0

Postkolonial mengkritik resonansi dengan perhatian dan orientasi bahwa asal mula mereka dalam situasi dunia yang baru mencipatakan transformasi dalam dunia ekonomi kapitalis, oleh kepentingan yang sebelumnya dijelaskan sebagai “kapitalisme global”, “produksi fleksibel”, “kapitalisme akhir”, dan seterusnya, istilah tersebut merupakan konseptualisasi dari hubungan global, khususnya hubungan yang sebelumnya dipahami oleh para binari sebagai terjajah atau penjajah.

Formasi Postkolonial:

  • Sub Saharan Africa: hutang dan deregulasi mengikuti program penyesuaian sturuktural hukuman, lebih terintegrasi dengan kekayaan dari banyak elit Dunia Ketiga dalam ekonomi global .
  • Kondisi Islam militan: kegagalan dari neokolonial, periode developmentalis telah berinteraksi dengan tradisi sejarah budaya Islam, pembaruan dan penaklukan imperialisme budaya memberikan sebuah proses penolakan budaya dari globalisasi dan modernitas.
  • Asia Timur: bersaksi pada akumulasi teritorial nasional dan aliansi regional defensif.
  • Amerika Latin: teori postdevelopment dan prakteknya berbeda dari sentimen anti-development sejauh ini dan tidak menolak globalisasi atau modernitas tapi ingin menemukan beberapa jalan hidup dengan itu dan melampaui itu secara imajinatif.


Selengkapnya...

Yogie Siswo S / 105120401111022 0

Post Structuralism

Berbeda dengan strukturalis, pendekatan ini tidak hanya melihat dunia hanya pada faktor-faktor produksi ketika mengkritik kapitalisme, tetapi juga juga melihat budaya yang sebagai faktor penting yang menciptakan realitas politik yang diciptakan oleh modernisasi. Analisis pendekatan ini terhadap budaya berbeda dengan pendekatan modernisasi, bahkan mengkritik pendekatan modernisasi. Kritiknya adalah pendekatan modernisasi memandang budaya hadir di dalam masyarakat mempunyai tahap-tahap yang linear seiring dengan perkambangan ekonomi masyarakat tersebut, sedang pendekatan ini post-strukturalis memandang budaya tidak dapat dilepaskan dari wacana yang hadir, dimana wacana tersebut diproduksi dari hubungan antar pengetahuan dan kekuasaan. Dengan demikian, pendekatan post-strukturalis memandang wacana yang melahirkan budaya adalah produk dari hubungan pengetahuan dan kekuasaan.

Post Colonialism

Teori poskolonial merupakan suatu teori yang mempelajari kondisi dari keadaansesudahnya. Teori poskolonial terutama berkenaan dengan keadaan abad ke-18sampai abad ke-19. Teori ini memberikan perhatian kepada apa yang disebut budaya pribumi yang merupakan budaya tertindas dari kekuasaan kolonialisme, juga teori ini berkaitan dengan representasi ras, etnisitas dan pembentukannegara–bangsa. focus kajian poskolonial adalah masalah ketikadilan dalam bidang social budaya dan ilmu pengetahuan yang diakibatkan oleh hegemoni, kolonialisme serta narsisme dan kekerasan epistemology Barat yang sudah berkembang sejak awal abad modern . Dengan perkataan lain, kajian poskolonial “menawarkan” sebuahpemahaman kritis dan berupaya untuk mengungkap berbagai dimensi ideologis,hegemonis dan imprealis yang terdapat dalam ilmu social-budaya.

Selengkapnya...

DEVELOPMENT atau STUDI DUNIA KETIGA 0



Bila kita berbicara tentang kolonialisme pasti akan terlintas saat era Indonesia seang dijajah . Berdasarkan pengalaman tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa kegiatan kolonialisme merupakan suatu kegiatan dari negara kuat menguasai keseluruhan aspek dari negara lemah . Aspek ini terdiri dari ekonomi dan politik.
Lalu seiring dengan berjalannya waktu muncullah suatu teori yang mengkritik teori kolonialisme. Teori itu adalah post-kolonialisme. Teori ini menyatakan bahwa sesungguhnya antara negara ketiga dengan negara lainnya tidak terdapat suatu kesenjangan yang sangat jauh. Sesungguhnya negara dunia ketiga sangat memungkinkan untuknya berkembang .
             Selengkapnya...

Ivory Kraska Taruna / 1051 2040 3111 010 0

Review materi "WEEK 7"

Pada tahun 1960an hingga 1980an studi tentang pembangunan dianggap telah didominasi oleh para kaum marxis yang strukturalis dimana pembangunan dianggap sebagai suatu cara untuk merestrukturisasi masyarakat. Dalam perkembangannya anggapan tersebut mendapat reaksi yang negatif dan mendapatkan kritik dari kaum pemikir baru yang disebut dengan pemikir post-strukturalis. Dalam pemikirannya para post-strukturalis tetap berpikir secara struktural dengan apa yang dimaksud dengan pembangunan, hanya saja mereka menggunakan cara yang lain dalam berpikir secara struktural. Yang dimaksud dengan cara lain tersebut adalah para post-strukturalis lebih menekankan pada aspek kultur dalam struktur masyarakat daripada aspek ekonomi masyarakat itu sendiri, lebih jelasnya para post-strukturalis memandang pembangunan sebagai modern power dan social control.

Pemikiran Marxis merupakan produk dari era pencerahan di Eropa pada abad ke-18 yang kemudian berlanjut kepada munculnya kaum postivis di abad ke-19 dan pemikir modernis pada abad ke-20. Argumen diatas dapat dilihat dari cara berpikir para Marxis yang selalu rasional dan mengesampingkan hal yang bersifat mistis ataupun yang berhubungan dengan agama karena pada era pencerahan ilmu pengetahuan telah menggantikan posisi agama. Selain itu Marxis juga berpikir sebagai positivis yang selalu berpikir ilmiah. Dan yang terakhir adalah bahwa Marxisme sebagai suatu bentuk pemikiran yang modernis dalam bentuk kritik yang tinggi dimana Marxisme menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa masyarakat kepada suatu kesejahteraan yang kemudian terancam oleh penyalahgunaan hal tersebut oleh para aktor yang mengejar profit. Pemikiran Marxis tersebut akhirnya mendapatkan perlawanan dari para pemikir kritis lainnya dengan pemikiran-pemikiran post-strukturalis, post-modernis, dll yang menanyakan kembali apakah arti dari pembangunan yang sesungguhnya dimana perlawanan tadi merupakan bentuk kritik dari para pemikir era setelah masa pencerahan. Tokoh-tokoh perlawanan tersebut antara lain adalah Foucault, Nietzsche, Vico, Heidegger, Husserl dll. Disamping pemikiran post-strukturalis dan post-modernis, muncul pula pemikiran post-kolonialisme yang mengkritik secara keras bentuk pendudukan masyarakat ‘barat’ atau lebih jelasnya bangsa eropa terhadap bangsa ‘timur’ yang kelak akan menimbulkan banyak efek negatif yang berkelanjutan terhadap pandangan akan bangsa ‘timur’. Tokoh- tokoh yang terkenal dalam poskolonialisme adalah Franz Farnon, Edward Said, Homi Bhabha, dan Gayatri Spivak. Mereka berpikir dengan menggunakan pemikiran para pemikir kritis sebelumnya seperti pemikiran, post-strukturalis milik Foucault hingga pemikiran Marxis. Bentuk-bentuk pemikiran kritis tadi merupakan beberapa dari pemikiran yang mempertanyakan kembali apakah sebenarny arti pembangunan yang selama ini selalu disumsikan sebagai suatu kebaikan.


Selengkapnya...

Sam Horry Bio (105120403111004) II 0

Post-colonialism world

Tujuan dari penulis ini adalah untuk mengenalkan tentang pengantar post-kolonialisme,sebab konsep ini dinilai bisa lebih simpel namun kompleks sebab ada perdebatan tentang globalisasi dan kamus-kamus studi pembangunan .Post-kolonialisme menurutnya adalah suatu studi yang mengkaji dunia ketiga. Kajian ini termasuk pemikiran yang lebih modern yang melandaskan pemikiran penjajahan dari barat ke dunia-dunia eropa. Atau yang lebih tepatnya adalah tentang perjuangan antara kolonialisme dan nasionalisme dunia ketiga.

Post-kolonialisme juga bisa merekonstruksi pikiran kita terhadap subordinasi yang ada. Juga dalam bacaan ini disebutkan lahirnya sebuah “hibriditas” yang menjadi salah satu inti dalam narasi post-kolonialisme. Ada beberapa tokoh-tokoh yang mengkonsepkan darimana sebenarnya post-kolonialisme itu berasal. Namun, rata-rata dari mereka mendefinisikan secara sistematis bahwa post-kolonialisme adalah pemikiran yang termasuk dalam post-modernisme dan ada unsur budaya.

Selengkapnya...

Ardhian Bayu H. 105120400111024 review minggu 7 0


Teori Marxisme dan Neo Marxisme mendominasi dunia pada era tahun 1960-1980 an. Teori Marxis lebih memfokuskan pembahasannya pada segi bidang ekonomi. Inti dari teori ini adalah “ketergantungan”. Di sini juga terdapat sistem kapitalisme dimana pengeksploitasian “si kaya” terhadap “si miskin”. Pada era ini sebuah system yang secara umum dilingkupi oleh komponen-komponen dimana komponen tersebut  terdapat karakteristik social yang berbeda satu sama lain. Tapi, teori marxis ini mendapat tentangan dari teori structuralis.

Setelah sedikit pembahasan tentang teori Marxis, kini teori post structuralis yang memfokuskan pada segi pembangunan yang merupakan kekuatan dari suatu Negara dan juga control social beserta power yang dimiliki Negara tersebut. Selain itu, ide yang dimiliki oleh kaum ini yaitu hubungan erat antara Negara maju dan Negara berkembeng. Sebelumnya, teori structuralis yang membahas tentang pergerakan social yang menjadi acuan khusus untuk mengatasi masalah pembangunan.

Teori post kolonialis ingin memfokuskan diri pada orientasinya terhadap tatanan dunia baru di masa depan. Selain itu, teori ini juga bertujuan untuk menghapuskan segala sisa-sisa penjajahan yang masih tertinggal


Selengkapnya...

Novia Primaditya, 105120400111036 0

WEEK 7

Diantara pertengahan 1960 sampai dengan awal 1980, pemikiran kritis yang bersangkutan dengan studi pembangunan lebih dikuasai oleh teori-teori dari marxist dan juga neo-marxist. Teori ini berusaha untuk menempatkan setiap kejadian historis dan juga karakter-karakter sosial secara tepat di dalam sistem, pasar global, dan juga sistem kapitalis dunia. struktur-struktur sosial tersebut merupakan basis yang mendasari gerakan-gerakan politik dan juga gerakan sosial yang dapat memicu perubahan pembangunan sosial. Maka, pembangunan juga merupakan dasar yang dapat mengubah struktur sosial. Teori kritis ini, selalu menimbulkan kecurigaan, bahkan menyulut permusuhan dari sisi politik. Elemen dari teori kritis ini memicu munculnya pemikiran ‘poststructural’

Beberapa pemikir poststructural menganggap bahwa bentuk-bentuk perubahan model produksi dalam masyarakat telah berubah, dimana aspek metrial tidak lagi dijadikan sebagai bahan pemikiran yang utama, justru aspek kultur lah yang saat ini dijadikan sebagai bahan pemikiran yang utama. Misalnya saja, manusia lebih mengutamakan apa yang dipercayainya daripada apa yang diketahuinya. Memasuki abad pencerahan, eropa dijadikan semacam pusat dunia dan pemimpin dunia. Di eropa terjadi pembagian daerah berdasarkan apa yang dimilikinya, misalnya  kebijaksanaa, pengetahuan, juga negara yang bahkan tidak mengetahui apa-apa. Pemikiran pada abad pencerahan ini sebenranya tidak terlalu jauh dengan pemikiran modernism, dimana kedua pemikiran tersebut lebih ‘menerima’ dibandingkan racism, dengan menganggap bahwa semua orang memiliki kesempatan untuk berfikir rasional. namun pemikiran modern ini mendapatka kritik dari postructural, dimana post structural menganggap bahwa teori modern merupakan 'representasi dari suatu kebenaran', karena bisa saja apa yang diucapkan bukanlah cerminan asli dari keadaan sebenarnya.

selanjutnya, post kolonialisme merupakan suatu kritik yang saat ini menempati posisi penting di sejumlah cabang ilmu seperti bahasa, satra, sejarah dan lain-lain.  pemikiran ini merupakan suatu pemikiran yang menganggap bahwa negara-negara dunia ketiga yang pernah dijajah, tidak akan bisa lepas begitu saja dari negara yang pernah menjajahnya. tentu terdapat pengaruh-perngaruh tertentu yang terjadi.
Selengkapnya...

Aghata Nindya Hasan (105120400111054) 0

week 5
kapitalisme adalah suatu paham yang berkonsentrasi pada kebebasan pasar yang akan mempengaruhi struktur pembangunan dan politik. sistem ini tampaknya cukup bagus karena akan meningkatkan daya saing perekonomian suatu negara dan akan membawa keuntungan ekonomi yang besar terhadap pembangunan suatu negara, namun disisi lain kapitalisme juga akan membawa kerugian bagi negara - negara miskin, hal ini disebabkan adanya ketertinggalan teknologi pengolahan sumber daya yang ada, beberapa peneliti berpendapat bahwa negara - negara maju hanya memanfaatkan sumber daya negara - negara miskin sebagai sumber dari bahan mentah yang dari industri yang dimiliki negaramaju, jadi kapitalisme menghambat pembangunan bagi negara - negara miskin karena mereka hanya di manfaatkan bagi kemajuan negara maju.



week 6

The End of Development, or the New Beginning?
Post-development memandang industri dapat membantu pembangunan, namun di sisi lain dianggap memperbudak manusia. Pada akhirnya, teori ini mendapat banyak tentangan. Salah satunya dianggap tidak dapat mengurangi kemiskinan.
Menurut pandangan post-development, pembangunan sendiri tidak bisa dilepaskan dari modernisasi. Modernisasi sendiri identik dengan westernisasi, hal ini berarti bahwa pembangunan cenderung dimonopoli oleh negara-negara barat yang terkadang memiliki seistem kapitalis. Namun padangan ini mendapatkan banyak kritik dari teori-teori lain, karena hal itu justru menyebabkan pembangunan yang tidak merata dan menyatakan bahwa modernisasi justru dapat menyebabkan kemiskinan.
Selengkapnya...

Diana Ratry Purwa 105120400111050 0

Review Minggu 7


          Post-strukturalis

Dari pertengahan tahun 80-an sampai awal tahun 90-an pemikiran-pemikiran kritis mengenai pembangunan didomonasi oleh teori marxis dan neo-marxis. Kemudian muncul teori-teori alternatif baru seperti teori post-strukturalist dan post-colonialis. Teori post-strukturalis kebanyakan dianggap sebagai sebagai kelanjutan dari teori strukturalis. Namun post-strukturalis mempunyai beberapa perbedaan. Salah satunya adalah, jika strukturalis menggunakan kajian ekonomi untuk mengkritisi kapitalisme, post-strukturalis menggunakan kajian kebudayaan untuk mengkritisi modernitas. Strukturalis melihat emansipasi manusia sebagai potensi dalam pembangunan modern, sedangkan strukturalis melihat pembangunan sebagai strategi pembangunan modern dan kontrol sosial.

Post-kolonialisme

Teori post-kolonial sebagian besar lahir dari pemikiran kaum intelektual yang berasal dari negara bekas koloni. Dan ironisnya, pelajar yang berasal dari barat, maupun yang belajar di barat juga turut meramaikan teori ini. Ide dari teori kritik ini adalah untuk memaksakan “pemikirian kembali yang radikal mengenai ilmu pengetahuan dan identitas sosial yang dibentuk dari koloni dan kolonialisasi barat” . Menurut Prakash, teori kritik sebelumnya belum sepenuhnya bebas dari pengaruh Eurocentric. Contoh dari kritik pos-kolonialsme adalah mengkritisi apa yang disebut bangsa Eropa sebagai “the other”. 
Selengkapnya...

Natya chummala.S.M.W 105120407111022 Minggu 7 0

POST - COLONIALISM

            Berbicara post - colonialisme tidak lepas dari masa – masa penjajahan , yang mana awal mula dari suatu masa . Kolonial adalah cara suatu Negara kuat atau berkuasa berusaha untuk mengendalikan atau menundukan Negara jajahannya ( Negara – Negara lemah ) demi mencapai tujuan nasionalnya baik itu dibidang Ekonomi,Budaya,Militer,Sosial, Sumber Daya  dan dibidang lainnya, di lain sisi juga untuk menerapkan Budaya,Sistem atau Hukum yang dianut negaranya untuk Negara jajahannya. Dampak dari Budaya,Sistem atau Hukum yang diterapkan merupakan suatu hambatan dan ketergantungan Negara jajahan terhadap Negara penjajah untuk membangun negaranya dengan mandiri , hal ini lah yang menjembatani antara colonial dan post - colonial.

            Bila mana Kolonial adalah cara suatu Negara kuat atau berkuasa berusaha untuk mengendalikan atau menundukan Negara jajahannya ( Negara – Negara lemah ) demi mencapai tujuan nasionalnya baik itu dibidang Ekonomi,Budaya,Militer,Sosial dan  dibidang lainnya. Berbeda dengan Post – colonial , mereka berpandangan bahwa apa yang terjadi dengan Negara – Negara didunia ini baik itu Negara yang pernah dijajah atau pun yang pernah menjajah kedudukannya adalah sama rata. Memang tidak bisa kita pungkiri Negara ketiga akan selalu bergantung akan bantuan akan Negara kedua atau pertama , namun itu bukan kendala bagi Negara ketiga untuk membangun negaranya untuk lebih maju tanpa menerapkan Budaya,Sistem atau Hukum yang ditinggalkan oleh masa colonial.

            Pada intinya post - colonial , menentang akan adanya berbedaan Negara yang pernah dijajah ataupun Negara yang pernah menjajah Negara lain . Budaya,Sistem atau Hukum yang ditinggalkan oleh masa colonial tidak mempengaruhi akan berkembangnya suatu Negara dan tidak mengganggap bahwa Negara – Negara barat sesuatu yang istimewa memang pada kenyataannya post – colonial memandang bahwa kedudukan setiap Negara – Negara dunia adalah sama tanpa disertai akan strata tertentu.


B.HI.3
Selengkapnya...

Dwita Kurnia Mahardhika - 105120401111028 0

Week 7 : Poststructuralism, Postcolonialism, dan Postdevelopmentalism


Bermula dari pemikiran para teoritis post-strukturalis dan post-modernis mengenai pembangunan yang berfokus pada modern rational thinking dan mengacu pada suatu hal yang disebut “progress”, menyebabkan pemikiran masyarakat pada pembangunan hanya berdasarkan pada ide dan pemikiran rasional yang menitikberatkan pada science dan teknologi sebagai sumber baru bagi material progress dan kesejahteraan manusia. Science dianggap dapat menggantikan agama (religion) sebagai modus utama dari suatu pemahaman manusia.
Negara-negara Eropa Barat dianggap sebagai penemu apa yang disebut sebagai “rasonalitas” sehingga rasionalitas yang dipakai dalam pembangunan mengacu pada rasionalitas yang terdapat di negara-negara Eropa Barat saja.
Modern rational thinking, yang memisahkan antara kepercayaan (beliefs) dan science bukannya diterima begitu saja, namun terdapat pula penolakan-penolakan mengenai standar ini . tokoh-tokoh yang mengkritisi standar ini antara lain :
·         Giovanni Battista Vico :
Vico cenderung lebih condong pada kekuatan irasional yang dia pikir hal inilah yang membentuk sifat manusia secara alami dan lebih menyukai sesuatu yang "umum" daripada sesuatu yang rasional
·         Friedrich Nietzsche :
Kehidupan modern, kata Nietzsche, dipaksa untuk menemukan dirinya sendiri pada prinsip-prinsip semangat, kemajuan, dan kebenaran. Namun, dunia modern membawa sebuah pemiskinan pengalaman untuk tingkat dimana orang tidak lagi bisa menemukan makna dari suatu kebenaran
·         Edmund Husserl :
Ketidakmampuan Sains empiris untuk menyediakan jawaban untuk pertanyaan evaluatif normatif (bermakna).
·         Michel Foucault :
Foucault mengajukan dua kritik terhadap filosofi humanisme rasional modern. Pertama, rasioanl modern digunakan untuk menciptakan suatu image masyarakat universal yang sesuai dengan sifat dan kebudayaan dari masyarakat Eropa. Kedua, nilai-nilai dan cita-cita emansipatoris dari Pencerahan Eropa (otonomi, kebebasan, hak asasi manusia, dll) adalah dasar ideologis untuk "menormalkan" suatu disiplin yang memaksakan sebuah "identitas yang sesuai" pada orang modern.

Sedangkan untuk post-kolonialisme, lebih menekankan pada proses kolonisasi pada era modern. Yang lebih menekankan pada kolonisasi bahasa, literature, sejarah, sosiologi, antropologi dan geografi. Post-kolonialis telah menyebabkan negara-negara dunia ketiga tidak dapat melepaskan diri dari apa yang disebut dengan Eropa-Sentris.

 

Selengkapnya...